Mekari Insight
- Platform fintech adalah solusi digital bagi industri finansial yang memanfaatkan teknologi untuk menyediakan layanan keuangan secara lebih cepat, efisien, dan mudah diakses.
- Beberapa aplikasi yang wajib dimiliki oleh perusahaan fintech mencakup sistem KYC dan AML, ERP dan manajemen keuangan, hingga CRM dan Customer Support System, serta berbagai software complementary lainnya.
- Mekari menawarkan ekosistem software terintegrasi yang dapat menjadi solusi bagi bisnis fintech untuk mengelola keuangan, operasional, dan kepatuhan bisnis jasa keuangan secara end-to-end.
Perusahaan fintech semakin kesulitan menjaga keberlanjutan di tengah persaingan dan regulasi yang semakin ketat serta risiko wanprestasi yang tinggi.
Menurut data OJK, Tingkat TWP90 di sektor fintech lending mencapai 4.33% pada November 2025, naik dari 2.76% pada Oktober sebelumnya. Jika tidak ada mekanisme mitigasi yang optimal pada 2026, pertumbuhan industri berpotensi melambat.
Oleh karena itu, perlu platform fintech terintegrasi untuk mengoptimalkan proses compliance dan manajemen risiko. Di samping itu, aplikasi fintech juga dapat meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
Artikel ini akan membahas 8 platform fintech yang esensial dan wajib dimiliki oleh bisnis teknologi finansial untuk mengatasi tantangan tersebut dan mendorong pertumbuhan bisnis fintech.
1. Sistem KYC, AML, dan Compliance Management

Sistem KYC (Know Your Customer) dan AML (Anti-Money Laundering) menjadi pondasi utama bagi perusahaan fintech. Kedua sistem tersebut berfungsi untuk mencegah pencucian uang, pendanaan terorisme, dan kejahatan finansial lainnya.
Tak hanya itu, sistem KYC dan AML juga berguna untuk membangun kepercayaan pelanggan serta mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan di tengah regulasi yang ketat.
Penerapan KYC dan AML dalam industri fintech sangat ketat karena termasuk dalam persyaratan compliance dari pemerintah, OJK, dan Bank Indonesia (BI). Semua fintech terdaftar wajib mematuhi UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan TPPU, dengan e-KYC dan video KYC sebagai metode verifikasi utama.
Selain itu, OJK melalui POJK No. 8/2023 mengharuskan Enhanced Due Diligence (EDD) untuk pelanggan berisiko tinggi, termasuk verifikasi identitas dan pemantauan transaksi yang sesuai profil.
Sementara itu, BI fokus pada sistem pembayaran digital, menekankan standar kontraktual untuk kejelasan tanggung jawab dan pencegahan risiko.
Untuk memenuhi semua kebijakan dan persyaratan tersebut, ada beberapa komponen sistem compliance yang wajib dimiliki oleh platform fintech, antara lain:
Customer Onboarding & KYC
Proses onboarding pelanggan memerlukan verifikasi identitas ketat untuk memastikan kepatuhan awal.
- Identity verification: Melibatkan pengecekan e-KTP, selfie, dan liveness detection untuk memastikan identitas asli pelanggan.
- Document verification: Validasi dokumen pendukung seperti paspor atau SIM untuk mencegah pemalsuan.
- Biometric authentication: Penggunaan sidik jari atau pengenalan wajah untuk akses aman ke platform fintech.
AML/CFT (Counter Financing of Terrorism)
Komponen ini fokus pada pencegahan pencucian uang melalui pemantauan transaksi mendalam.
- Transaction monitoring: Pemantauan real-time transaksi untuk mendeteksi pola mencurigakan.
- Sanctions screening: Pemeriksaan terhadap PEP (Politically Exposed Persons) dan watchlist internasional.
- Suspicious Activity Reporting (SAR): Pelaporan aktivitas mencurigakan ke otoritas terkait secara otomatis.
- Risk scoring dan assessment: Penilaian risiko pelanggan berdasarkan data transaksi dan profil.
Ongoing Monitoring
Pemantauan berkelanjutan memastikan kepatuhan tetap terjaga sepanjang siklus pelanggan.
- Perpetual KYC (continuous monitoring): Pemantauan berkelanjutan identitas pelanggan untuk deteksi perubahan.
- Change of circumstance alerts: Peringatan otomatis atas perubahan situasi seperti alamat atau status keuangan.
- Automated compliance reporting: Pembuatan laporan kepatuhan secara otomatis untuk audit OJK dan BI.
Umumnya, perusahaan fintech dapat menyediakan kemampuan ini dalam aplikasi mereka menggunakan mekanisme banking as a service.
2. ERP dan Sistem Manajemen Keuangan

Perusahaan fintech memang menyediakan layanan yang fokus pada pengelolaan keuangan pelanggan. Namun, keuangan internal perusahaan sendiri juga perlu dikelola dengan baik.
Untuk itu, perusahaan fintech juga perlu sistem ERP internal untuk membantu mengelola finansial dan operasional bisnisnya sendiri. Sistem ini memastikan efisiensi, akurasi data, dan kepatuhan regulasi.
Tanpa ERP yang solid, risiko kesalahan pencatatan keuangan bisa meningkat dan tidak efisien.
Secara spesifik, ERP membantu bisnis fintech dalam:
- Financial Management: Mengelola pembukuan, account payable/receivable (utang dan piutang bisnis), serta laporan keuangan secara terpusat untuk akurasi dan transparansi keuangan perusahaan.
- Accounting Automation: Melakukan entri jurnal dan rekonsiliasi secara otomatis agar proses akuntansi lebih cepat dan minim kesalahan.
- Multi-entity Management: Mengelola keuangan beberapa entitas atau anak perusahaan dalam satu sistem terintegrasi. Ini sangat cocok untuk fintech dengan struktur bisnis yang memiliki beberapa anak perusahaan maupun entitas hukum.
- Budgeting & Forecasting: Membantu financial planning and analysis dengan pembuatan anggaran serta proyeksi yang akurat untuk mendukung pertumbuhan.
- Tax Management: Memastikan compliance pajak melalui otomatisasi e-Faktur, e-Filing, dan pelaporan pajak secara tepat waktu dan sesuai regulasi undang-undang.
- Audit Trail: Menyediakan audit log yang lengkap untuk setiap transaksi dan perubahan. Ini dapat memudahkan regulatory audit dari OJK atau BI.
Baca Juga: 9 Vendor ERP Terbaik dan Tips Memilih Sesuai Skala Bisnis
3. CRM dan Customer Support System

CRM sangat penting bagi fintech untuk mengelola customer lifecycle secara efektif. Sistem ini membantu memahami kebutuhan pelanggan, meningkatkan kepuasan, dan mendorong pertumbuhan pendapatan, dari akuisisi hingga retensi. Tanpa CRM yang baik, fintech sulit mempertahankan pelanggan di pasar yang kompetitif.
Fungsi CRM untuk fintech:
- Lead Management: Melacak calon pelanggan (prospective customers) dari berbagai kanal agar tidak ada lead yang terlewat.
- Sales Pipeline: Memantau proses konversi dari lead hingga menjadi funded customers secara transparan dan terukur.
- Customer Segmentation: Membuat profil pelanggan berdasarkan perilaku, nilai transaksi, dan tingkat risiko untuk strategi yang lebih tepat sasaran.
- Marketing Automation: Mengelola email campaigns dan push notifications secara otomatis untuk meningkatkan engagement dan konversi.
- Customer Communication: Menyediakan komunikasi omnichannel (email, WhatsApp, in-app messaging) agar pelanggan mendapat respon cepat dan konsisten.
Baca Juga: 10 Software CRM yang Wajib Dicoba Bisnis Indonesia
4. Data Analytics dan Business Intelligence
Bagi bisnis fintech, data adalah aset yang sangat berharga. Setiap hari, platform menghasilkan jutaan transaksi, interaksi pelanggan, dan log sistem. Analytics dan business intelligence mengubah tumpukan data itu menjadi wawasan yang jelas dan actionable.
Dengan analytics yang baik, perusahaan fintech bisa mengambil keputusan lebih cepat, mengurangi risiko, menemukan peluang baru, serta meningkatkan kepuasan dan retensi pelanggan.
Beberapa jenis analytics yang dibutuhkan dalam fintech meliputi:
Operational Analytics
Analisis operasional memantau kinerja sistem dan aktivitas harian secara real-time.
- Transaction monitoring: Memantau setiap transaksi untuk mendeteksi anomali dengan cepat.
- System performance: Mengukur kecepatan, uptime, dan stabilitas platform agar layanan tetap lancar.
- Customer activity tracking: Melacak perilaku pengguna di aplikasi untuk mengidentifikasi pola penggunaan.
Financial Analytics
Financial analytics memberikan gambaran jelas tentang kesehatan keuangan perusahaan.
- Revenue reporting: Menyajikan laporan pendapatan secara real-time dan akurat.
- Cost analysis: Mengidentifikasi sumber biaya utama dan peluang penghematan.
- Profitability by product/segment: Menghitung profitabilitas per produk atau segmen pelanggan.
Risk Analytics
Risk analytics berfokus untuk menganalisis risiko untuk mencegah kerugian akibat kredit yang macet, wanprestasi, dan penipuan.
- Credit risk modeling (untuk lending fintech): Membangun model penilaian risiko kredit yang akurat.
- Fraud detection: Mendeteksi pola transaksi mencurigakan secara otomatis.
- Portfolio quality monitoring: Memantau kualitas portofolio pinjaman secara berkelanjutan.
Customer Analytics
Customer analytics membantu memahami perilaku dan nilai jangka panjang dari masing-masing nasabah.
- Customer behavior analysis: Menganalisis pola transaksi dan interaksi pelanggan.
- Churn prediction: Memprediksi pelanggan yang berpotensi berhenti menggunakan layanan.
- Customer lifetime value: Menghitung nilai seumur hidup pelanggan untuk strategi retensi yang lebih baik.
5. HR & Payroll Management System
Perusahaan fintech perlu bersaing ketat untuk menarik dan mempertahankan karyawan berkualitas tinggi di bidang teknologi, data, compliance, hingga produk keuangan.
Sistem HR dan payroll yang baik membantu mengelola siklus hidup karyawan secara efisien, mulai dari rekrutmen hingga pengembangan karir.
Dengan sistem manajemen SDM yang terpadu, fintech bisa meningkatkan kepuasan dan produktivitas karyawan, memastikan kepatuhan regulasi ketenagakerjaan Indonesia, mengurangi kesalahan administrasi.
- HRIS (Human Resource Information System): Menyimpan employee database, mencatat attendance, dan mengelola leave management secara terpusat dan aman.
- Payroll Management: Menghitung gaji, BPJS, PPh 21, serta menangani tax reporting secara akurat dan sesuai regulasi Indonesia.
- Recruitment: Dilengkapi applicant tracking system untuk melacak proses perekrutan dari lamaran hingga onboarding dengan lebih cepat.
- Performance Management: Memantau KPI tracking dan melakukan performance reviews secara terjadwal untuk evaluasi kinerja yang objektif.
- Learning & Development: Mengelola training management agar karyawan terus mengembangkan skill yang relevan dengan tren teknologi dan regulasi keuangan.
Baca Juga: 10 Aplikasi HRIS Terbaik untuk Tingkatkan Manajemen SDM
6. Cyber Security dan Infrastructure Management
Keamanan data dan infrastruktur digital tentu juga merupakan prioritas utama yang sangat krusial bagi perusahaan fintech. Bagaimana tidak, industri ini menangani data keuangan sensitif dan transaksi bernilai tinggi setiap harinya.
Satu insiden keamanan saja bisa menyebabkan kerugian finansial besar, hilangnya kepercayaan pelanggan, serta sanksi berat dari regulator.
Oleh karena itu, fintech wajib menerapkan cyber security dan infrastructure management yang aman, terjamin, komprehensif dan selalu ter-update.
Komponen-komponen keamanan digital yang wajib dimiliki oleh platform fintech meliputi:
Network Security
Komponen ini merupakan garis pertahanan pertama terhadap ancaman eksternal.
- Firewall dan intrusion detection: Memblokir akses tidak sah dan mendeteksi upaya penetrasi secara real-time.
- DDoS protection: Melindungi platform dari serangan denial-of-service yang dapat membuat layanan tidak dapat diakses.
- VPN untuk remote access: Memastikan koneksi aman bagi karyawan yang bekerja jarak jauh atau hybrid.
Application Security
Selain network, application security juga krusial untuk melindungi lapisan inti dari platform fintech itu sendiri.
- Web Application Firewall (WAF): Memfilter dan memblokir serangan berbasis web seperti SQL injection dan XSS.
- API security gateway: Mengamankan komunikasi antar sistem dan pihak ketiga melalui autentikasi dan rate limiting.
- Penetration testing (minimal setahun sekali): Melakukan uji penetrasi secara berkala untuk menemukan dan memperbaiki kerentanan sebelum dieksploitasi.
Data Security
Untuk memastikan keamanan pelanggan, data security juga wajib ada di dalam sebuah platform fintech yang terpadu.
- Encryption at rest dan in transit: Mengenkripsi data saat disimpan dan saat dikirim untuk mencegah pembacaan oleh pihak tidak berwenang.
- Data masking untuk sensitive information: Menyamarkan data sensitif (seperti nomor rekening atau KTP) di lingkungan non-produksi.
- Backup dan disaster recovery: Menyediakan cadangan data dan rencana pemulihan cepat jika terjadi kebocoran atau bencana.
Access Management
Access management berguna untuk memastikan bahwa informasi-informasi penting hanya bisa diakses oleh orang yang memang berhak atas informasi tersebut.
- Multi-factor authentication: Menambahkan lapisan verifikasi tambahan (OTP, biometrik) selain kata sandi.
- Role-based access control (RBAC): Memberikan hak akses sesuai peran dan tanggung jawab karyawan.
- Privileged access management: Mengawasi dan membatasi akses akun dengan hak istimewa (admin, developer) secara ketat.
7. Document Management System
Proses bisnis di fintech juga sangat bergantung pada pengelolaan dokumen-dokumen penting seperti perjanjian pinjaman, syarat & ketentuan, serta bukti identitas pelanggan.
Dengan document management system, fintech bisa mempercepat proses onboarding nasabah, mengarsipkan setiap dokumen dengan rapi, serta meminimalkan risiko kehilangan atau kerusakan dokumen.
Selain itu, solusi ini memastikan semua dokumen tetap aman, mudah diakses, dan sesuai dengan regulasi hukum di Indonesia.
Secara spesifik, document management system dalam bisnis fintech berfungsi untuk:
- Digital Onboarding: Memungkinkan pelanggan melakukan sign up secara fully online tanpa perlu datang ke kantor, sehingga proses menjadi lebih cepat dan user-friendly.
- Contract Management: Mengelola dokumen penting seperti loan agreements dan terms & conditions secara terpusat, termasuk versioning dan penyimpanan yang terorganisir.
- E-Signature: Menyediakan tanda tangan digital yang sah secara hukum dan sesuai dengan UU ITE, sehingga kontrak memiliki kekuatan hukum yang sama dengan tanda tangan basah.
- Document Storage: Menyimpan semua dokumen di cloud storage yang aman, lengkap dengan retention policy yang sesuai regulasi untuk menjaga keamanan dan kepatuhan jangka panjang.
- Audit Trail: Melacak secara detail siapa yang mengakses dokumen kapan, termasuk aktivitas edit, view, dan sign, sehingga memudahkan audit internal maupun eksternal dari regulator.
8. Collaboration dan Productivity Tools
Collaboration dan productivity tools membantu mengurangi waktu yang terbuang, meminimalkan miskomunikasi, serta meningkatkan koordinasi antar tim.
Dengan aplikasi-aplikasi ini, perusahaan fintech bisa tetap agile meski timnya tersebar atau sedang berkembang pesat.
Platform ini memiliki dua fungsi utama, yakni untuk komunikasi dan mengelola projek-projek bisnis dengan rapi dan terpadu.
Communication
Communication tools memastikan alur komunikasi internal dan eksternal berjalan cepat, terdokumentasi, serta minim miskomunikasi di tim yang sering hybrid atau remote. Beberapa contoh aplikasi untuk komunikasi internal tim yang dapat Anda gunakan antara lain:
- Slack / Microsoft Teams
Software ini memungkinkan tim melakukan komunikasi internal secara real-time dengan channel per proyek/departemen, integrasi notifikasi, serta file sharing agar diskusi tetap terorganisir dan mudah dicari.
- Zoom / Google Meet
Dua aplikasi conference atau meeting ini mendukung rapat harian, demo produk, wawancara kandidat, atau koordinasi dengan regulator/OJK secara aman dan berkualitas tinggi, lengkap dengan recording dan screen sharing.
- Email (Google Workspace / Microsoft 365)
Menyediakan email profesional, kalender terintegrasi, storage cloud (Drive/OneDrive), serta kolaborasi dokumen real-time untuk komunikasi formal, kontrak, dan arsip yang patuh regulasi.
Project Management
Tools ini membantu tim fintech mengatur tugas, tenggat waktu, dan kolaborasi lintas fungsi (dari development hingga operasional) agar proyek berjalan tepat waktu dan transparan.
- Mekari Officeless project management
Solusi no-code/low-code untuk membangun project management software secara custom dan mengelola workflow bisnis sesuai kebutuhan fintech.
Fitur utamanya meliputi:
- Visualisasi Gantt Chart untuk memantau linimasa, dependensi tugas, dan status proyek secara real-time.
- Pembuatan workflow dan aplikasi custom tanpa perlu coding rumit, sehingga tim bisa membangun platform untuk project khusus dengan cepat.
- Fokus pada fitur yang benar-benar dibutuhkan saja, sehingga antarmuka lebih sederhana, adaptasi karyawan lebih cepat, dan biaya lebih efisien.
- Integrasi mulus dengan ekosistem Mekari maupun software-softawre lainnya untuk alur data yang konsisten dan otomatis.
- Skalabilitas tinggi, cocok untuk fintech dari tahap startup hingga enterprise yang membutuhkan fleksibilitas tinggi dalam mengelola proyek operasional, pengembangan produk, atau kepatuhan regulasi.
- Jira
Dirancang khusus untuk tim software engineering dalam proses development, menyediakan issue tracking, sprint planning, backlog grooming, serta integrasi CI/CD agar pengembangan fitur fintech (seperti app mobile atau API) lebih terstruktur.
- Asana / Monday.com
Menawarkan tampilan visual (board, timeline, list) yang intuitif untuk mengelola operational projects seperti kampanye marketing, audit compliance, atau rollout fitur baru. Aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur assignment, dependency, dan progress tracking agar tim non-teknis tetap sinkron.
- Notion / Confluence
Berfungsi sebagai knowledge base terpusat untuk menyimpan berbagai dokumentasi seperti SOP, wiki regulasi, catatan meeting, playbook produk, serta kolaborasi dokumen secara real-time.
Baca Juga: 15 Jenis Project Management Software untuk Bisnis & Rekomendasi
Rekomendasi Software Terintegrasi untuk Perusahaan Fintech

Menggunakan banyak platform fintech secara terpisah bisa menyebabkan data silo, proses manual yang berulang, serta risiko ketidaksesuaian regulasi.
Solusi terbaik adalah memilih ekosistem software terintegrasi yang mencakup hampir semua aspek operasional dalam satu platform.
Mekari hadir sebagai ekosistem software terintegrasi yang dirancang khusus untuk mendukung seluruh operasional bisnis fintech.
Dengan pendekatan all-in-one berbasis cloud, Mekari membantu fintech mengautomasi proses dari compliance, keuangan, HR, hingga customer management—semua dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Sebagai ekosistem software terintegrasi, Mekari memungkinkan perusahaan fintech Anda untuk:
- Manajemen keuangan, pembukuan, dan laporan keuangan serta budgeting dan financial planning dari banyak entitas sekaligus dengan software akuntansi Mekari Jurnal.
- Melaksanakan pemasaran secara personal berdasarkan profil pelanggan, melacak prospek, memantau proses konversi, dan mengintegrasikan berbagai kanal komunikasi untuk mengoptimalkan pengalaman pelanggan dengan aplikasi CRM Mekari Qontak.
- Membangun sistem KYC dan compliance dan mengintegrasikannya dengan ekosistem fintech dengan platform low-code no-code Mekari Officeless dan integrasi automasi KYC Mekari Qontak.
- Membangun dashboard insights, business intelligence, dan manajemen risiko melalui custom software development Mekari Officeless.
- Mengelola dokumen dan arsip digital secara terpadu dengan document management system berbasis low-code/no-code Mekari Officeless serta mengintegrasikan tanda tangan digital dari Mekari Sign.
- Membangun project management software untuk berkolaborasi antar tim dengan platform low-code/no-code Mekari Officeless.
- Mengelola kehadiran, penggajian, performa, hingga sistem rekrutmen karyawan secara terpadu dengan software HRIS Mekari Talenta.
Integrasikan seluruh platform esensial untuk bisnis layanan finansial Anda dengan solusi untuk perusahaan fintech dari Mekari sekarang!
