7 min read

Risk Appetite: Cara Susun Framework Batas Risiko Perusahaan

mekari officeless risk appetite featured image

Mekari Insight

  • Risk appetite membantu perusahaan mengambil risiko secara sadar dan terarah. Risk appetite bukan soal berani atau tidak, tapi soal menetapkan batas risiko yang masuk akal dan selaras dengan tujuan bisnis.
  • Tanpa risk appetite, manajemen risiko mudah jadi subjektif dan tidak konsisten. Banyak perusahaan punya risk register, tetapi tanpa appetite dan tolerance yang terdefinisi, tiap unit bisa punya standar risiko sendiri.
  • Risk appetite yang efektif butuh sistem yang bisa diterapkan, dipantau, dan diskalakan. Solusi custom seperti yang dikembangkan melalui Mekari Officeless membantu perusahaan membangun risk management platform yang fleksibel, cepat dikembangkan, dan siap tumbuh bersama bisnis.

Setiap keputusan besar bisnis selalu ada risikonya. Masalahnya bukan soal Anda berani atau tidak mengambilnya, melainkan: sejauh mana risiko itu masuk akal untuk diambil? Inilah mengapa penting untuk perusahaan memahami risk appetite. 

Risk appetite adalah batas nyaman yang bisa ditoleransi sebelum risiko berubah jadi beban. Tanpa arah yang jelas soal batas risiko, perusahaan bisa terlalu agresif dan rugi besar, atau sebaliknya, terlalu berhati-hati sampai kehilangan momentum.

Artikel ini akan membahas apa itu risk appetite, komponen-komponen utamanya, dan bagaimana menyusunnya agar relevan dengan strategi bisnis Anda. Baca selengkapnya.

Apa itu risk appetite

mekari officeless risk appetite risk pyramid infographic

Risk appetite adalah tingkat dan jenis risiko yang bersedia diterima organisasi untuk mencapai tujuan strategisnya. Konsep ini menjadi penghubung antara strategi, manajemen risiko, dan penetapan target.

Risk appetite menunjukkan “seberapa berani” organisasi menghadapi risiko demi mencapai hasil tertentu. Contohnya,sebuah perusahaan teknologi mungkin siap menerima risiko tinggi dalam pengembangan produk baru demi jadi yang pertama di pasar.

Tanpa risk appetite yang jelas, keputusan bisnis bisa kehilangan arah karena tidak ada panduan risiko yang disepakati bersama.

Perbedaan risk appetite dan risk tolerance

Meski sering terdengar mirip, risk appetite dan risk tolerance adalah dua konsep yang berbeda namun saling melengkapi.

  • Risk appetite menjelaskan jenis dan tingkat risiko yang dapat diterima organisasi untuk mencapai target tertentu. Ini adalah arahan strategis dari level pimpinan, misalnya: perusahaan siap mengambil risiko operasional tinggi untuk masuk ke pasar baru demi pertumbuhan.
  • Risk tolerance menjelaskan batas penyimpangan yang masih bisa diterima ketika pencapaian target mulai melenceng. Ini lebih bersifat teknis dan operasional, seperti: jika penjualan turun lebih dari 10% dari target, maka perlu segera dilakukan evaluasi dan tindak lanjut.

Manfaat & pentingnya risk appetite dalam perusahaan

Risk appetite memiliki peran penting dalam menciptakan kerangka kerja manajemen risiko yang lebih strategis dan terarah.

1. Memberikan kejelasan dalam pengambilan keputusan strategis

Risk appetite membantu organisasi mengambil keputusan yang konsisten dan terarah, terutama saat menghadapi berbagai pilihan dengan tingkat risiko yang berbeda.

Baca Juga: 7 Langkah-Langkah Pengambilan Keputusan Taktis untuk Bisnis!

2. Menyelaraskan aktivitas bisnis dengan toleransi risiko

Setiap aktivitas atau proyek dievaluasi berdasarkan apakah risikonya masih dalam batas yang dapat diterima, sehingga strategi bisnis tetap aman dan terkontrol.

3. Menjadi alat komunikasi risiko kepada stakeholder

Risk appetite memudahkan perusahaan menjelaskan postur risikonya kepada investor, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya secara transparan.

4. Membantu memahami dan mengelola eksposur risiko

Dengan batas risiko yang jelas, perusahaan bisa lebih efektif dalam mengidentifikasi, mengukur, dan memantau risiko yang dihadapi dalam operasional sehari-hari.

5. Mendorong pengambilan keputusan berbasis risiko

Manajemen dapat membuat keputusan yang lebih objektif karena didasarkan pada pemahaman risiko, bukan hanya intuisi atau tekanan sesaat.

6. Mempermudah alokasi sumber daya

Karena risiko dan prioritas sudah terukur, perusahaan bisa mengalokasikan dana, waktu, dan tenaga ke area yang paling berdampak.

7. Meningkatkan transparansi eksternal

Investor dan lembaga keuangan akan lebih percaya jika perusahaan menunjukkan pengelolaan risiko yang disiplin dan transparan.

8. Membantu memahami trade-off antara risiko dan peluang

Dengan adanya risk appetite, perusahaan bisa lebih realistis dalam menyeimbangkan potensi keuntungan dengan risiko yang menyertainya.

Faktor-faktor yang memengaruhi risk appetite organisasi

Semakin ketat regulasi di suatu industri, biasanya semakin rendah risk appetite organisasi. Misalnya, 

1. Tingkat regulasi industri

Semakin ketat regulasi di suatu industri, biasanya semakin rendah risk appetite organisasi. Misalnya, sektor keuangan dan kesehatan cenderung lebih konservatif dalam mengambil risiko karena diawasi ketat oleh regulator.

2. Tahap perkembangan bisnis

Startup umumnya memiliki risk appetite yang lebih tinggi karena fokus pada pertumbuhan cepat dan inovasi. Sebaliknya, perusahaan yang sudah mature cenderung lebih berhati-hati untuk menjaga stabilitas dan reputasi.

3. Ekspektasi stakeholder

Harapan dari pemegang saham, investor, pelanggan, regulator, dan mitra bisnis bisa memengaruhi seberapa besar risiko yang bersedia diambil oleh organisasi. Jika stakeholder cenderung konservatif, perusahaan juga cenderung mengikuti.

Baca Juga: Apa Itu Stakeholder Management, Contoh, dan Strategi Penerapan

4. Kapasitas dan maturitas manajemen risiko

proses manajemen risiko

Semakin matang sistem manajemen risiko di sebuah organisasi, semakin percaya diri mereka dalam mengelola risiko yang lebih kompleks. Sebaliknya, jika masih dalam tahap awal, organisasi cenderung membatasi risiko.

Baca Juga: Manajemen Risiko Perusahaan: Strategi, Manfaat, dan Tantangan

5. Pentingnya tujuan tertentu

Risk appetite bisa meningkat jika tujuannya dianggap sangat penting atau strategis, seperti ekspansi pasar, transformasi digital, atau peluncuran produk baru.

6. Budaya organisasi

Nilai dan kebiasaan internal juga berpengaruh. Perusahaan dengan budaya inovatif dan adaptif biasanya memiliki risk appetite yang lebih tinggi dibanding perusahaan yang sangat birokratis atau kaku.

7. Posisi dan kekuatan finansial

Organisasi dengan kondisi keuangan yang sehat dan posisi pasar yang kuat cenderung lebih siap mengambil risiko. Sebaliknya, organisasi dengan keterbatasan dana akan lebih hati-hati.

8. Lingkungan ekonomi dan politik

Kondisi ekonomi makro, ketidakstabilan politik, atau perubahan kebijakan pemerintah bisa membuat organisasi menyesuaikan risk appetite-nya secara berkala.

9. Jenis inisiatif yang dijalankan

Proyek dengan jangka pendek dan risiko rendah akan berbeda risk appetite-nya dibanding proyek jangka panjang yang inovatif atau disruptif. Tiap jenis inisiatif bisa punya profil risiko berbeda.

10. Persaingan dalam industri

Jika kompetitor agresif mengambil peluang, organisasi mungkin terdorong menaikkan risk appetite agar tidak tertinggal. Namun, tetap harus disesuaikan dengan kapasitas internal.

Cara perusahaan menentukan risk appetite

Menentukan risk appetite adalah proses strategis yang mempertimbangkan banyak aspek internal dan eksternal perusahaan. Berikut ini adalah parameter utama yang perlu dipertimbangkan:

1. Tujuan bisnis (business objectives)

Harus selaras dengan tujuan jangka pendek dan jangka panjang perusahaan. Perusahaan perlu memahami apa yang ingin dicapai dan bagaimana strategi bisnisnya, termasuk pertimbangan budaya organisasi, kondisi pasar, dan nilai-nilai inti perusahaan.

2. Penilaian risiko (risk assessment)

Identifikasi ancaman potensial terhadap bisnis dan analisis seberapa besar kemungkinan risiko tersebut terjadi. Penilaian ini juga mempertimbangkan rekam jejak perusahaan dalam mengambil risiko di masa lalu dan bagaimana hasilnya.

Baca Juga: Mengenal Risk Assessment Software, Pentingnya & Rekomendasi

3. Kapasitas risiko (risk capacity) dan eksposur

Risk capacity menunjukkan seberapa besar potensi kerugian yang masih bisa ditoleransi perusahaan tanpa mengganggu kelangsungan bisnis atau tujuan strategis. Ini menjadi batas atas dari risk appetite yang wajar.

4. Analisis terhadap tujuan jangka panjang

Perusahaan juga perlu mengevaluasi apakah tingkat risiko yang diambil tetap sejalan dengan objektif jangka panjang. Appetite perlu direvisi jika arah bisnis berubah atau lingkungan eksternal mengalami pergeseran besar.

Komponen utama dalam risk appetite framework

Agar risk appetite dapat diimplementasikan secara efektif, perusahaan perlu menyusunnya dalam suatu kerangka kerja atau risk appetite framework (RAF). Framework ini mencakup beberapa komponen penting berikut:

1. Risk appetite statement

Ini adalah pernyataan resmi yang menjelaskan jenis dan tingkat risiko yang bersedia diterima perusahaan dalam mencapai tujuannya. Pernyataan ini bersifat menyeluruh, mencakup risiko keuangan, operasional, reputasi, kepatuhan, dan lainnya.

Risk appetite statement menjadi dasar bagi pengambilan keputusan di seluruh level organisasi. Dokumen ini menyatukan pemahaman semua pihak tentang batas risiko yang diperbolehkan, serta membantu menyelaraskan strategi bisnis dengan praktik manajemen risiko.

2. Risk capacity

Risk capacity adalah ukuran maksimal risiko yang dapat ditanggung perusahaan tanpa membahayakan kelangsungan operasional atau target strategis. Ini mencakup faktor-faktor seperti kekuatan finansial, kesiapan operasional, regulasi industri, dan kondisi pasar.

Dengan mengetahui kapasitas risikonya, perusahaan dapat menetapkan risk appetite yang realistis dan tidak melebihi kemampuan internalnya.

3. Peran dan tanggung jawab yang jelas

Framework yang efektif harus menetapkan dengan jelas siapa yang berperan dalam proses manajemen risiko:

  • Dewan Direksi menetapkan risk appetite dan memberikan arahan strategis.
  • Manajemen eksekutif menerjemahkannya menjadi kebijakan operasional dan proses kerja.
  • Tim risk & compliance bertugas memantau, mengevaluasi, dan memastikan semua risiko masih berada dalam batas yang telah ditetapkan.

Pembedaan peran ini penting untuk memastikan koordinasi dan akuntabilitas dalam pengelolaan risiko di seluruh organisasi.

Cara menyusun risk appetite framework yang efektif

Penyusunan risk appetite framework tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan pendekatan yang sistematis dan kolaboratif. Berikut langkah-langkah utama yang perlu ditempuh perusahaan:

1. Pahami tujuan strategis organisasi

Mulailah dengan mendefinisikan tujuan bisnis secara jelas. Apa yang ingin dicapai perusahaan dalam jangka pendek dan panjang? Apa yang menjadi penentu keberhasilan? 

Tujuan ini akan menjadi dasar dalam menetapkan seberapa besar risiko yang dapat diterima.

2. Libatkan para pemangku kepentingan

ilustrasi stakeholder

Melibatkan dewan direksi, manajemen senior, dan unit-unit kunci sangat penting untuk membangun konsensus. Workshop atau diskusi terbuka dapat membantu menyatukan berbagai perspektif dalam menetapkan level risk appetite.

Baca Juga: Apa Itu Stakeholder Mapping, Contoh, dan Cara Menerapkannya

3. Identifikasi dan analisis risiko

Lakukan penilaian risiko secara menyeluruh. Gunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memahami risiko-risiko utama, kemungkinan terjadinya, serta dampaknya terhadap bisnis.

4. Buat risk appetite statement

Setelah risiko teridentifikasi, susun pernyataan yang spesifik untuk masing-masing jenis risiko (misalnya: risiko keuangan, kepatuhan, operasional). 

Pernyataan ini akan menjadi panduan dalam menetapkan batasan dan membuat keputusan.

5. Tetapkan limit dan toleransi risiko

Dari pernyataan tadi, tetapkan limit numerik atau batas toleransi yang bisa diukur. 

Contohnya: maksimum kerugian investasi, batas utang, atau tingkat gagal bayar yang masih bisa diterima. Ini penting untuk memberi kejelasan dan panduan yang terukur dalam praktik sehari-hari.

6. Integrasikan dengan proses manajemen risiko

Risk appetite framework tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus menyatu dalam seluruh proses bisnis, termasuk penilaian risiko, mitigasi, approval proyek, hingga evaluasi performa. Framework ini harus jadi bagian aktif dari pengambilan keputusan strategis.

7. Tinjau dan perbarui secara berkala

Lingkungan bisnis terus berubah. Maka framework ini juga harus ditinjau secara rutin untuk memastikan relevansi dan efektivitasnya. 

Lakukan revisi terhadap risk appetite statement dan limit risiko jika ada perubahan strategi, kondisi eksternal, atau profil risiko perusahaan.

Baca Juga: Business Continuity Management: Panduan Lengkap & Strategi

Bagaimana Mekari Officeless dapat membantu risk appetite

Untuk menerapkan risk appetite secara efektif, perusahaan butuh sistem yang bisa mendukung proses identifikasi, penilaian, monitoring, dan pengambilan keputusan berbasis risiko. 

Mekari Officeless membantu perusahaan membangun platform custom risk management yang cepat dikembangkan, fleksibel, dan tetap scalable.

Manfaatnya bagi pengembangan risk management platform:

  • Menyesuaikan struktur dan parameter risk appetite sesuai kebutuhan bisnis
  • Memusatkan data risiko dan approval limit dalam satu sistem
  • Menyediakan dashboard monitoring real-time terhadap exposure dan batas risiko
  • Otomatisasi workflow identifikasi & evaluasi risiko lintas unit
  • Siap tumbuh seiring skala dan kompleksitas perusahaan bertambah

Yuk, bangun platform risk management yang sesuai kebutuhan dan scalable bersama Mekari Officeless

Referensi

Gartner. ‘’Risk Appetite Framework | Gartner’’
Metricstream. ‘’What is a Risk Appetite Framework? [Complete Guide]’’

Topik:
Banner by Mekari
Keluar

WhatsApp WhatsApp kami