Image

Dana Darurat untuk Karyawan: Apa itu dan Bagaimana Cara Mempersiapkannya?

Belajar dari pandemi Covid-19, penting bagi karyawan untuk memahami cara mengelola keuangan (financial planning) yang baik, terutama dana darurat (emergency fund).

Di Indonesia, masyarakat masih awam dengan pentingnya penyimpanan dana darurat. Menurut survei Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) di tahun 2020:

46% responden di Indonesia memiliki jumlah dana darurat yang tidak ideal.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai dana darurat, berapa jumlah idealnya, cara mempersiapkannya, serta peran perusahaan terkait emergency fund karyawan, mari simak pembahasan artikel berikut ini.

Mengenal Dana Darurat (Emergency Fund)

seseorang sedang mengeluarkan uang dan kartu kredit sebagai dana darurat

Dana darurat atau dana berjaga-jaga pada dasarnya adalah uang yang disisihkan untuk menutupi kejadian tak terduga dalam hidup.

Uang itu bertujuan  untuk meningkatkan keamanan finansial dengan menciptakan safety net yang dapat digunakan dalam memenuhi pengeluaran tak terduga, seperti biaya pengobatan dan biaya perbaikan rumah.

Aset dalam dana darurat cenderung berupa uang tunai atau aset lain yang bersifat likuid (mudah dicairkan).

Hal ini dilakukan untuk mengurangi kebutuhan menarik dana dari opsi utang yang berbunga tinggi, seperti kartu kredit, pinjaman tanpa jaminan, atau merusak keamanan masa depan Anda dengan memanfaatkan dana pensiun.

Besaran Ideal Dana Simpanan untuk Kebutuhan Darurat

Besaran atau jumlah dana simpanan darurat yang diperlukan setiap individu berbeda-beda. Kisaran jumlahnya dapat dibedakan berdasarkan gaya hidup atau pun tanggungan yang dimiliki.

Diliput dari situs resmi Kementerian Keuangan Republik Indonesia, jumlah ideal dana darurat diklasifikasikan berdasarkan status pernikahan, dengan rincian sebagai berikut:

  • Belum menikah: 6 kali lipat pengeluaran per bulan
  • Sudah menikah: 9 kali lipat pengeluaran per bulan
  • Sudah menikah dan memiliki anak: 12 kali lipat pengeluaran per bulan

Dari klasifikasi tersebut, kerap kali timbul pertanyaan:

Mengapa jumlah ideal bagi dana darurat berada pada rentang 6-12 kali lipat pengeluaran per bulan?

Hal ini disebabkan akan sangat berisiko apabila kelipatan pengeluaran yang dimiliki karyawan kurang dari yang sudah ditentukan.

Selain itu, dana darurat yang terlalu besar juga tidak akan efektif, karena umumnya dana tersebut disimpan pada instrumen keuangan yang likuid.

Oleh karenanya, untuk menghindari pemborosan akibat kemudahan pencairan dana, kelebihan dana yang ada akan lebih menguntungkan jika dipakai untuk investasi jangka panjang.

Baca juga: Ini Tips Menjaga Kesehatan Keuangan Karyawan

5 Cara Mempersiapkan Dana Berjaga-Jaga bagi Karyawan

Mengumpulkan dana darurat bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi, apabila Anda memiliki pengeluaran lain yang harus dipenuhi. Berikut adalah lima cara mudah untuk mempersiapkan dana darurat:

1. Buat Target yang Memungkinkan untuk Dicapai

Siapkan target awal dengan jumlah kecil dari pada jumlah yang besar. Mencapai target pertama dapat memberi Anda motivasi untuk terus maju. 

Lalu, tetapkan target selanjutnya lebih tinggi dari sebelumnya. Pada saat itu, menabung akan menjadi sebuah kebiasaan.

Motivasi yang diawali dengan target yang kecil akan membantu mendorong Anda mencapai target yang lebih besar.

2. Pentingnya Menjaga  Konsistensi

Dengan menetapkan kontribusi awal dengan jumlah yang relatif kecil akan membantu Anda agar tidak merasa terbebani saat mengumpulkan dana berjaga-jaga.

Tidak hanya itu, konsistensi adalah faktor terpenting untuk mencapai target dana simpanan yang ideal.

Tingkatkan pula komitmen Anda, misalnya dengan mengurangi pengeluaran bulanan yang tidak termasuk ke dalam sandang, pangan, dan papan.

3. Gunakan Rekening Khusus

Buat rekening terpisah untuk dana simpanan darurat dan setorkan jumlah kontribusi yang Anda pilih secara otomatis, baik oleh perusahaan tempat Anda bekerja atau bank.

Selain lebih teratur, hal tersebut akan menghindari Anda dari menggunakan dana berjaga-jaga untuk keperluan sehari-hari.

4. Mengurangi Kebiasaan Konsumtif

Kemudahan membeli barang dan adanya promosi yang marak diiklankan pada layanan belanja online, dapat meningkatkan impulsivitas seseorang.

Maka dari itu, sangat penting untuk menekan pengeluaran konsumtif, yakni mengesampingkan keperluan-keperluan yang sebenarnya tidak mendesak.

Alternatif lain, Anda dapat menyiasati keperluan tersebut dengan membeli pengganti yang lebih murah atau membuat rencana belanja dan keuangan bulanan untuk membuat proyeksi kebutuhan Anda ke depannya.

5. Alokasikan Tabungan ke Dana Darurat Secukupnya

Jumlah yang dialokasikan untuk dana berjaga-jaga tidak boleh terlalu kecil ataupun terlalu besar.

Apabila terlalu kecil, maka akan berisiko dan tidak bisa menutupi keadaan darurat. Di lain sisi, jumlah pengalokasian yang besar tidak akan efektif, sebab rekening tabungan umumnya menghasilkan tingkat bunga yang rendah.

Untuk alasan itu, Anda harus membatasi menyetorkan tabungan ke tabungan darurat jika sudah mencapai targetnya. Mulailah menyetor uang untuk investasi atau apa pun yang menghasilkan passive income.

Nah, itulah cara menyiapkan dana darurat sejak awal sebagai tindakan preventif. 

Sayangnya, sikap preventif dan antisipatif dalam menyiapkan simpanan darurat kerap kali dilupakan semua orang termasuk karyawan.

Banyak karyawan yang melakukan pinjaman online dengan bunga yang tinggi karena ketidaksiapan karyawan terhadap dana simpanan darurat.

Akibatnya, kinerja karyawan menurun, terlalu stres memikirkan cara melunasi pinjaman dan  bunga yang besar.

Karyawan juga seringkali melakukan pinjaman/kasbon karyawan ke perusahaan yang berdampak pada membengkaknya biaya operasional perusahaan.

Bagaimana kalau karyawan membutuhkan dana darurat mendadak dan belum sempat menyiapkannya?

Lantas, adakah cara agar perusahaan dapat berperan membantu karyawan yang membutuhkan dana darurat dengan cepat?

Tentu, salah satunya adalah dengan memberi Earned Wage Access.

Baca juga: Ini Peran Perusahaan dalam Kesejahteraan Finansial Karyawan

Earned Wage Access, Beri Karyawan Gaji Lebih Awal sebagai Dana Darurat

Dengan akses gaji lebih awal, karyawan dapat mengambil gaji mereka sebagai dana darurat di keadaan genting.

Tak hanya itu, akses gaji lebih awal juga dapat membangun kebiasaan karyawan dalam menumbuhkan komitmen untuk membangun dana darurat.

Earned Wage Access dari Mekari Flex merupakan sebuah fitur yang memungkinkan karyawan mengambil gaji lebih cepat tanpa mengganggu arus kas perusahaan.

Perlu diingat bahwa Earned Wage Access (EWA) bukanlah pinjaman, melainkan pemberian hak gaji karyawan secara lebih awal. Jadi, karyawan akan mendapatkan sisa gaji mereka yang telah dikurangi akses gaji awal yang telah digunakan.

Dengan begitu, karyawan dapat lebih mudah mengelola keuangannya dan memakai Earned Wage Access sebagai dana darurat.

Tak hanya itu, Earned Wage Access juga dapat diintegrasikan dengan sistem payroll perusahaan, sehingga penghitungan gaji setelah dipotong EWA dapat dilakukan secara otomatis. Tentunya membuat pekerjaan HR lebih efisien.

Jika Anda tertarik untuk menggunakan Earned Wage Access dari Mekari Flex, diskusikan lebih lanjut dengan tim kami di tautan berikut ini.

Karir
Karir

Kembangkan karir bersama Mekari

Mari berkembang dan menjadi bagian dari perubahan bersama talenta-talenta terbaik dari manca negara di Mekari.

Hubungi kami
Hubungi kami

Selalu siap membantu Anda

Bagi Anda yang membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi kami melalui kontak yang disediakan.

WhatsApp WhatsApp kami