8 min read

Workforce Automation & 170 Juta Pekerjaan Baru di 2030

Workforce automation

Mekari Insight

  • Workforce automation merupakan pondasi bagi perusahaan modern untuk mengurangi ketergantungan pada proses manual dan mempercepat alur kerja lintas divisi.
  • Dengan dukungan AI, workforce automation tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga membantu perusahaan menganalisis data dan mempercepat pengambilan keputusan strategis.
  • Mekari sebagai ekosistem software terintegrasi, mendukung implementasi workforce automation secara menyeluruh, mulai dari HR, keuangan, hingga operasional, dalam satu sistem berbasis cloud yang saling terhubung.

Transformasi AI bukan hanya mengubah cara kerja karyawan dan leaders, namun juga mendorong perusahaan untuk menyusun ulang struktur operasional. Semakin banyak tugas yang dapat diotomatisasi, kolaborasi antara manusia dan teknologi semakin penting.

Oleh karena itu, workforce automation perlu diimplementasikan agar proses automasi di berbagai fungsi dalam bisnis dapat berjalan optimal dan efektif.

Bagaimana AI merubah cara kerja karyawan & leaders

workforce automation

Perkembangan AI Agent kini mengubah cara pandang perusahaan dalam melihat teknologi. Kini, AI bukan hanya sekadar alat bantu sederhana, namun teknologi ini mampu menyelesaikan tugas kompleks tanpa intervensi manusia. 

Perubahan cara kerja leaders dengan adanya AI

Perubahan teknologi mendorong leaders untuk mulai membangun konsep digital workforce, sebuah kolaborasi antara manusia dan AI untuk dapat menyelesaikan tugas bersama. Namun, dalam implementasinya, leaders perlu menyusun ulang struktur tim dan workflow kerja, agar pekerjaan dapat berjalan efektif.

Transformasi ini memperbesar tanggung jawab leaders untuk mendorong perusahaan dalam mengadopsi AI. Alih-alih terjadi dari sisi karyawan, justru hambatan terbesar dalam proses implementasi ini umumnya muncul dari para leaders yang tidak bergerak cepat. Padahal dari sisi karyawan, mereka sudah sangat siap dengan transformasi digital ini.

Untuk mengatasi masalah ini, leaders perlu mengelola kolaborasi antara manusia dan teknologi dengan menciptakan peran baru. Beberapa perusahaan mulai mempertimbangkan posisi Gen AI Value dan Risk Leader untuk menghubungkan bisnis, teknologi dan manajemen risiko. 

Untuk melangkah ke tahap selanjutnya, leaders perlu menyiapkan strategi pengembangkan skill yang strategis untuk mendukung terciptanya peluang kerja baru di masa depan. 

Perubahan cara kerja karyawan dengan adanya AI

Proses adopsi AI dari sisi karyawan jauh berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan leaders.

Berdasarkan survey, 94% karyawan dan 99% leader sebenarnya telah familiar dengan tools AI. – McKinsey.

Namun, sayangnya para leaders masih meremehkan tingkat penggunaan AI di kalangan karyawan. Mereka berpendapat bahwa hanya sekitar 4% karyawan yang menggunakan AI. Padahal, menurut laporan karyawan sendiri angka itu seharusnya lebih besar 3x lipat. 

Disaat yang sama, kebutuhan akan skill semakin mendesak, karyawan menginginkan pelatihan formal dalam penggunaan AI tools. Dalam penelitian McKinsey, disebutkan bahwa program pelatihan sangat penting dalam proses implementasi AI, misalnya seperti bootcamp pengembangan AI atau pelatihan prompt engineering.

Di tengah teknologi yang terus berkembang pesat, karyawan menyadari perubahan besar yang akan datang dengan memperkirakan dampak AI pada bidang pekerjaan mereka.

Statistik perubahan cara kerja karyawan dengan AI

  • Berdasarkan survey yang sama, 47% karyawan memprediksi bahwa gen AI dapat membantu mereka dalam mengerjakan tugas harian. Sedangkan sebagian karyawan memprediksi AI dapat menggantikan 30% tugas mereka. – McKinsey.
  • Karyawan juga memiliki masalah lain dalam proses adopsi AI, seperti keamanan siber (51%), akurasi AI (50%) dan privasi data pribadi (43%). – McKinsey.

Dari masalah ini, justru menunjukkan bahwa dalam adopsi AI bukan hanya skill teknis yang diperlukan, namun terdapat skill lain yang dibutuhkan seperti literasi risiko dan kemampuan kritis terhadap hasil AI. 

Untuk mengatasi semua masalah ini, perusahaan perlu melakukan transformasi besar dengan menerapkan workforce automation. 

Workforce automation merupakan penggunaan teknologi untuk menyederhanakan proses kerja di berbagai industri. Konsep ini mencakup penggunaan software, sistem digital, hingga AI untuk meningkatkan efisiensi dengan mengurangi pekerjaan berulang dan fokus pada pekerjaan strategis. 

Dengan dukungan AI, sistem tidak hanya menjalankan perintah dengan cepat, namun juga dapat membantu tim menganalisis data, pola serta pengambilan keputusan dengan tepat. 

Survey penggunaan AI

  • Terbukti pada survey, bahwa sebanyak 75% pekerja kini menggunakan AI dengan dampaknya yang signifikan, yaitu 90% pengguna AI melaporkan bahwa AI dapat menghemat waktu kerja. – CFO
  • 90% leaders percaya bahwa AI dapat mendorong peningkatan profit dalam beberapa tahun ke depan. – McKinsey.
Baca Juga: Mengembangkan Startup yang Profitable: Tantangan dan Solusinya

Perbedaan Peran dan Generasi dalam Adopsi AI

Perbedaan generasi juga mempengaruhi pola adopsi AI dalam perusahaan.

Statistik generasi dalam adopsi AI

  • Berdasarkan riset McKinsey, Gen Millennials (35-44 tahun) memiliki tingkat penggunaan AI yang lebih tinggi yaitu sekitar 62% dibandingkan Gen Z (18-24 tahun) sekitar 50% dan Baby Boomers (>65 tahun) sekitar 22%. 
  • Dari hasil riset yang sama, ditemukan bahwa 90% Gen Millennials yang kini berada pada posisi manajerial menyatakan bahwa mereka merasa nyaman dalam menggunakan AI dalam bekerja sehari-hari.
  • Bahkan, sebanyak 68% dari mereka merekomendasikan penggunaan tools AI kepada timnya dan sebanyak 86% dari tim menyatakan bahwa solusi tersebut berhasil membantu mereka menyelesaikan tantangan dalam pekerjaan.

Contoh use case workforce automation untuk tiap divisi

Berikut beberapa contoh use case penerapan workforce automation di setiap divisi dalam perusahaan.

1. Finance

Dengan penerapan AI workforce automation, tim keuangan dapat mengotomatiskan tugas manual dan berulang, seperti entry data, rekonsiliasi, hingga proses faktur. Software ini juga dapat mengkategorikan pengeluaran dan menghasilkan laporan, serta mendeteksi adanya penipuan. 

2. Supply chain

Dalam industri manufaktur, automasi workforce dapat mengoptimalkan manajemen inventaris, pemantauan proses logistik, menurunkan biaya operasional hingga memudahkan komunikasi antara pelanggan dan pemasok. 

3. Customer service

Workforce automation membantu tim customer untuk menangani pelanggan terkait pertanyaan dasar, mengarahkannya ke agent, hingga menindaklanjuti keluhan secara otomatis. Memudahkan tim customer bekerja lebih efisien dan fokus pada keluhan yang lebih kompleks. 

4. Healthcare 

Dalam bidang kesehatan, automasi ini dapat menyederhanakan proses administrasi dan entry data, hingga penjadwalan konsul. Dengan adanya proses ini, bukan hanya beban administrasi yang dapat berkurang, namun kualitas pelayanan juga akan meningkat. 

5. HR

Workforce automation dapat mengotomatiskan alur kerja dan bisnis dalam bidang sumber daya manusia, seperti onboarding, offboarding hingga proses payroll. Membantu tim HR untuk dapat bekerja lebih cepat dan efisien. 

6. Marketing dan sales

Automasi dapat mendukung aktivitas dalam proses pemasaran dan penjualan, seperti mengotomasi hubungan dengan pelanggan melalui software CRM yang terintegrasi. Proses automasi membantu meningkatkan peluang konversi dan siklus penjualan. 

Penerapan workforce automation juga terlihat dari bagaimana teknologi digunakan di tingkat leaders dan karyawan dalam operasional sehari-hari.

Di level leaders, AI membantu para leaders untuk merancang strategi dan pengambilan keputusan berdasarkan data. Menurut laporan McKinsey, transformasi industri saat ini didorong oleh keputusan strategis pemanfaatan AI, diantaranya:

  • Penggunaan robotics untuk meningkatkan efisiensi produksi dalam bidang manufaktur. 
  • Prediksi kebutuhan energi pada bidang energi terbarukan.
  • Pemanfaatan AI dalam proses pengembangan obat pada bidang life science.
  • Hingga penerapan tutor AI dalam bidang pendidikan. 

Dalam level karyawan, workforce automation membantu penyelesaian tugas sehari-hari.

Berdasarkan studi tahun 2023 ditemukan bahwa penggunaan AI Bot membantu agen call center untuk mencatat data berupa suara teks dan masalah teknis dalam jumlah besar, dan membantu pelanggan untuk menyelesaikan masalah. – McKinsey.

Lalu, pada tahun 2025 dalam bidang yang sama, AI dapat berinteraksi langsung dengan pelanggan hingga melakukan tindakan secara mandiri, seperti memproses pembayaran, mendeteksi fraud, hingga menyelesaikan proses pengiriman. 

Lapangan Kerja Baru dan Perubahan Cara Kerja

Kemajuan dalam transformasi AI dan workforce automation sering dikaitkan dengan kekhawatiran hilangnya pekerjaan. Namun, berdasarkan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, yang dikutip dalam laporan McKinsey, diketahui bahwa perubahan ini justru menciptakan peluang kerja baru dalam jumlah besar. 

Alih-alih fokus pada prediksi 92 juta pekerjaan yang akan tergantikan oleh AI pada tahun 2030, para leaders justru didorong untuk merencanakan 170 juta pekerjaan baru yang diprediksi akan tercipta di masa depan beserta skill yang dibutuhkan.

McKinsey juga melaporkan bahwa, 23 juta pekerjaan akan tergantikan oleh AI khususnya di Indonesia pada tahun 2030. Namun, di sisi lain 27 juta hingga 46 juga pekerjaan akan tercipta, dan 10 juta di antaranya berasal dari jenis pekerjaan yang bahkan saat ini belum tercipta. 

Di sisi lain, AI juga mempengaruhi bagaimana cara manusia menjalani aktivitas harian. Berdasarkan laporan McKinsey, pada tahun 2024, satu jam yang digunakan untuk melakukan aktivitas harian memiliki potensi untuk diautomasi oleh AI. Dengan berkembangnya teknologi, potensi tersebut diprediksi dapat meningkat hingga tiga jam aktivitas harian per hari pada tahun 2030.

Hal ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya berpengaruh pada pekerjaan, namun dapat mengubah pola aktivitas harian manusia. 

Perubahan Skill Requirement yang Dibutuhkan dan Tidak Dibutuhkan

Bukan hanya teknologi, namun keterampilan juga mengalami perubahan yang signifikan, sehingga perusahaan perlu menyusun strategi pengembangan keterampilan agar relevan dengan kebutuhan di masa depan.

Skills rising in demand 

Berikut beberapa kategori skill yang diprediksi akan mengalami peningkatan hingga tahun 2030:

Statistik skills in demand

  • Technological skills: Menurut Bridgr Insights, data analysis, ICR dan technical skill diprediksi akan meningkat hingga 55% pada tahun 2030.
  • Social & emotional skills: Menurut Bridgr Insights, negosiasi, manajemen dan kemampuan adaptasi diperkirakan meningkat hingga 26% pada tahun 2030.
  • Higher cognitive skills: Menurut Bridgr Insights, kemampuan pemrosesan informasi, analisis statistik, dan pemikiran kritis diprediksi akan meningkat hingga 19% pada tahun 2030.
  • Dan menurut McKinsey, permintaan higher cognitive skills ini juga akan meningkat 19% di US dan 14% di Eropa dalam jangka waktu 2016-2030.

Skills declining in demand

Berikut beberapa kategori skill yang diprediksi akan mengalami penurunan karena proses otomatisasi oleh teknologi:

Statistik declining in demand

  • Basic cognitive skills seperti data input dan processing diprediksi akan mengalami penurunan sekitar 15%, dari 18% menjadi 14% dari total jam kerja menurut McKinsey.
  • Total jam kerja yang digunakan untuk keterampilan ini diperkirakan turun dari 115 miliar jam pada 2016 menjadi 97 miliar jam pada 2030 menurut Consulting.us.
  • Menurut McKinsey, keterampilan basic data-input dan processing diperkirakan juga akan turun 19% di US  dan 23% di Eropa antara 2016-2030.
  • Physical dan manual skills juga diprediksi menurun sekitar 14%, namun masih akan menjadi kategori keterampilan terbesar dengan sekitar 25% dari total jam kerja pada 2030 menurut McKinsey.

Technological skills trajectory

Di sisi lain, menurut laporan McKinsey permintaan terhadap skill teknologi juga akan meningkat seiring berkembangnya transformasi digital. 

Statistik technological skills

  • Technological skills sekitar 17% dari seluruh jam kerja pada 2030, diprediksi akan mengalami kenaikkan dari 11% pada 2016. – McKinsey.
  • Sedangkan, advanced IT dan programming skills diperkirakan mengalami pertumbuhan hingga 90% antara 2016-2030. – McKinsey.

Top skills executives prioritize

Selain untuk karyawan, menurut McKinsey terdapat beberapa skill yang dibutuhkan di masa depan untuk level leaders, di antaranya yaitu:

  • Leadership
  • Advanced communication skills
  • Advanced IT & programming skills
  • Critical thinking
Baca Juga: 8 Tantangan Transformasi Digital & Solusi bagi Perusahaan

Dampak Workforce Automation

Penerapan AI dalam workforce automation memberikan dampak pada bisnis dengan hasil yang berbeda-beda di setiap industri.

Statistik dampak workforce automation

  • Menurut penelitian McKinsey, sekitar 19% leaders melaporkan bahwa AI telah meningkatkan pendapatan perusahaan lebih dari 5%.
  • Sementara 36% lainnya menyatakan belum melihat adanya perubahan pada pendapatan perusahaan. Dari sisi efisiensi, hasilnya masih terbatas hanya sekitar 23% leaders yang melihat adanya keuntungan dari proses implementasi AI. 
  • Namun, ekspektasi terhadap potensi AI masih tinggi. Masih dalam penelitian McKinsey, diketahui bahwa sekitar 87% leaders percaya bahwa Gen AI dapat meningkatkan profit dalam tiga tahun ke depan dengan total lebih dari 5%.

Dampak AI pada produktivitas juga terlihat dari berbagai bidang contohnya seperti customer service.

Studi Generative AI at Work yang dipublikasikan oleh Oxford Academic, menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam lingkungan call center dapat meningkatkan produktivitas 14-15%, berdasarkan jumlah kasus pelanggan yang diselesaikan per jam.

Tahapan implementasi workforce automation 

Agar penerapan workforce automation berjalan efektif dan memberikan hasil optimal, perusahaan perlu menerapkan praktik implementasi yang tepat. 

1. Tentukan tujuan yang jelas

Dengan tujuan yang jelas, perusahaan dapat menyusun strategi yang terukur, mengalokasikan sumber daya dengan tepat, serta memastikan tim memiliki pemahaman yang sama terkait penggunaan sistem. 

2. Tetapkan KPI yang terukur

Key Performance Indicators (KPI) membantu perusahaan untuk mengukur efektivitas automation, seperti produktivitas karyawan, waktu penyelesaian tugas, hingga kepuasan pelanggan yang dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk keberlangsungan bisnis. 

3. Pelatihan karyawan

Sebelum menerapkan sistem pada aktivitas operasional, perusahaan perlu memberikan pelatihan untuk memahami cara kerja, perubahan alur kerja, dan dampaknya. Pelatihan ini bersifat lanjutan, tidak hanya dilakukan pada tahap awal namun tetap berlanjut untuk memudahkan karyawan beradaptasi apabila terdapat perubahan. 

4. Evaluasi berkala

Tidak ada sistem yang sempurna saat pertama kali diimplementasikan. Maka, perusahaan perlu melakukan evaluasi berkala, menerima saran, dan melakukan penyesuaian agar proses automasi dapat terus berkembang dan memberikan nilai bagi perusahaan.

5. Pilih software yang tepat

Agar implementasi berjalan optimal, perusahaan perlu memilih ekosistem software terpadu. Lakukan riset terkait fitur yang ditawarkan untuk memastikan solusi tersebut sesuai dengan kebutuhan bisnis. 

Baca Juga: 7 AI & Workflow Automation SaaS Terbaik

Solusi ekosistem software untuk mendukung workforce automation

Untuk mendukung proses implementasi workforce automation, Mekari hadir sebagai ekosistem software terpadu yang dirancang khusus untuk memudahkan proses operasional bisnis dalam satu sistem terintegrasi. 

Dengan pendekatan all-in-one berbasis cloud, Mekari membantu perusahaan mengotomatiskan berbagai lingkup kerja mulai dari HR, keuangan, procurement, pemasaran, hingga penjualan

Melalui integrasi sistem dalam satu platform terpadu, perusahaan dapat mengurangi silo data, meningkatkan efisiensi kerja, sekaligus membangun pondasi operasional yang adaptif terhadap perubahan teknologi. Memungkinkan bisnis menerapkan workforce automation secara terstruktur dan mendukung kolaborasi antara manusia dan teknologi dalam proses kerja setiap hari. 

Terapkan workforce automation untuk sederhanakan proses kerja dan bangun operasional bisnis yang fleksibel dengan ekosistem software terintegrasi dari Mekari!

Referensi

McKinsey. “Superagency in the workplace: Empowering people to unlock AI’s full potential”

McKinsey. “Automation and the future of work in Indonesia”

McKinsey. “Skill Shift Automation And The Future Of The Workforce”

McKinsey. “Skill shift: Automation and the future of the workforce”

Consulting.us. “McKinsey reveals skills needed to survive automation”

Oxford Academy. ”Generative AI at Work”

CFO. “75% of employees use AI at work: report”

FAQ

Apa yang dimaksud dengan workforce automation dalam bisnis?

Apa yang dimaksud dengan workforce automation dalam bisnis?

Workforce automation adalah pendekatan digital yang memanfaatkan sistem dan teknologi cerdas untuk menggantikan proses manual dalam operasional perusahaan agar lebih terstruktur dan efisien.

Mengapa workforce automation menjadi penting di era AI?

Mengapa workforce automation menjadi penting di era AI?

Di era AI, workforce automation membantu perusahaan mengelola volume pekerjaan yang semakin kompleks dengan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat proses, meningkatkan akurasi, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Apa saja contoh penerapan workforce automation di perusahaan?

Apa saja contoh penerapan workforce automation di perusahaan?

Workforce automation dapat diterapkan pada berbagai fungsi bisnis seperti otomatisasi payroll dan onboarding di HR, pengelolaan invoice di finance, automasi customer service, hingga sistem CRM untuk marketing dan sales.

Bagaimana Mekari mendukung implementasi workforce automation?

Bagaimana Mekari mendukung implementasi workforce automation?

Mekari mendukung implementasi workforce automation melalui ekosistem software terintegrasi yang mencakup HR, keuangan, procurement,  hingga proses legal dalam satu platform berbasis cloud sehingga proses bisnis dapat berjalan efisien dan terkoordinasi lebih baik.

Keluar

WhatsApp WhatsApp kami