Mekari Highlight
- AI outsourcing adalah penggunaan pihak eksternal untuk merancang, mengembangkan, mengelola, atau mendukung kebutuhan AI perusahaan, baik melalui vendor spesialis, konsultan teknologi, maupun platform AI as a Service (AIaaS).
- AI outsourcing dapat diterapkan di berbagai fungsi dan industri, seperti fraud detection dan credit scoring di sektor keuangan, forecasting dan optimasi supply chain di retail/manufaktur, hingga chatbot dan otomasi back-office pada bisnis outsourcing dan BPO.
- Mekari untuk Enterprise bisa membantu bisnis mengadopsi AI tanpa menambah silo sistem dan kompleksitas operasional, evaluasi kebutuhan dari proses, data, dan integrasi yang sudah berjalan.
Kesenjangan antara adopsi yang nyaris universal dan kapabilitas eksekusi yang masih langka ini sejalan dengan Deloitte yang menyebutkan bahwa 83% eksekutif dari lebih 500 perusahaan global memilih menyematkan AI langsung ke dalam layanan yang mereka outsource.
Artikel ini akan menjelaskan seputar AI outsourcing, use case di berbagai fungsi dan industri, tantangan implementasinya hingga kerangka praktis untuk menentukan model yang paling sesuai.
AI Outsourcing untuk Mengisi Kesenjangan Kapabilitas AI

AI outsourcing (alih daya kecerdasan buatan) adalah praktik mempekerjakan perusahaan atau ahli eksternal untuk merancang, mengembangkan, mengelola, atau mendukung proyek berbasis AI secara mandiri di dalam perusahaan.
Pihak eksternal ini bisa berupa vendor AI khusus, konsultan teknologi, atau penyedia AI as a Service (AIaaS) yang menawarkan kapabilitas AI langsung lewat platform siap pakai.
Pertumbuhan ini menandakan makin banyak perusahaan memilih mengakses AI lewat platform siap pakai ketimbang membangun infrastruktur dari nol.
Mengapa AI Outsourcing Masuk Agenda Bisnis Saat Ini
1. Belanja teknologi global makin banyak diarahkan ke AI
Bagi perusahaan yang masih memisahkan anggaran AI dari belanja IT rutin, perkembangan ini memberi perspektif berbeda. AI makin menjadi bagian dari belanja teknologi utama perusahaan, bukan lagi proyek eksperimental yang berdiri sendiri.
2. Pasar IT dan AI Indonesia juga terus berkembang
Pasar IT services Indonesia diproyeksikan tumbuh dari sekitar USD 5,4 miliar pada 2026 menjadi USD 9,5 miliar pada 2031, dengan teknologi AI dan machine learning menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat di dalamnya (Mordor Intelligence).
Perkembangan ini berarti pilihan vendor dan talenta yang mendukung AI outsourcing juga semakin luas. Perusahaan tidak harus selalu menunggu kapabilitas internal matang sebelum mulai mengevaluasi penggunaan AI dari pihak eksternal.
Model-Model AI Outsourcing: Full Outsourcing, AIaaS, dan Kombinasi Hybrid

1. Full outsourcing ke vendor atau konsultan AI spesialis
Full outsourcing lebih relevan ketika kebutuhan AI perusahaan sangat custom dan memiliki kaitan langsung dengan keunggulan kompetitif. Contohnya adalah model prediktif proprietary yang menjadi bagian penting dari model bisnis perusahaan.
Karena partner eksternal terlibat dalam pengembangan dan pengelolaan solusi, aspek kontrak perlu diperhatikan sejak awal. Kepemilikan model, data, dan hak kekayaan intelektual perlu disepakati sejak tahap negosiasi, bukan baru dibahas ketika proyek sudah berjalan.
AI as a Service (AIaaS)
AIaaS memberikan akses ke kapabilitas AI melalui software yang sudah menyediakannya. Perusahaan tidak perlu menjalankan proyek AI custom atau procurement AI secara terpisah.
Keunggulan utamanya adalah time-to-value yang lebih pendek. Model ini cocok untuk kebutuhan yang relatif repetitif dan operasional, seperti otomatisasi layanan pelanggan atau rekonsiliasi keuangan rutin.
Staff augmentation dan kombinasi hybrid
Staff augmentation menggunakan talenta AI eksternal secara kontrak untuk memperkuat tim internal. Selain membantu mempercepat implementasi, pendekatan ini juga dapat digunakan untuk mentransfer pengetahuan ke tim internal.
Model hybrid bisa jadi pilihan bagi perusahaan yang ingin membangun kapabilitas AI dalam jangka panjang tanpa mengorbankan kecepatan implementasi.
Namun, transfer pengetahuan perlu dirancang secara jelas karena hal ini sering kali tidak menjadi bagian yang cukup diperhatikan dalam kontrak outsourcing standar.
Contoh Use Case AI Outsourcing Lintas Fungsi dan Industri

Penggunaan AI outsourcing tidak terbatas pada satu fungsi atau industri. Kebutuhannya berbeda-beda, tetapi beberapa pola terlihat di organisasi skala besar.
1. Layanan keuangan dan asuransi
Di sektor keuangan dan asuransi, deteksi fraud secara real-time dan credit scoring menjadi use case yang memiliki tuntutan kepatuhan tinggi.
Menggunakan vendor yang memiliki sertifikasi dan rekam jejak audit dapat menjadi pilihan ketika perusahaan belum memiliki kemampuan untuk membangun dan mengelola model tersebut secara internal.
2. Retail dan manufaktur
Di retail dan manufaktur skala besar, forecasting penjualan, permintaan dan optimasi rantai pasok menjadi area yang menarik untuk AI.
Dengan volume transaksi yang tinggi dan operasional di banyak lokasi, penggunaan AIaaS yang terhubung dengan data terpusat dapat lebih realistis dibandingkan membuat proyek AI custom untuk setiap cabang.
3. Shared services atau Global Business Services
Pada fungsi shared services atau Global Business Services, satu implementasi AI yang ditempatkan secara terpusat dapat digunakan oleh beberapa unit bisnis sekaligus.
Dengan demikian, divisi finance dan IT sering menjadi titik awal penerapan AI outsourcing di organisasi besar.
4. Penyedia jasa outsourcing dan BPO
Sementara pada industri penyedia jasa alih daya dan BPO, chatbot layanan pelanggan serta otomasi proses back-office menjadi use case yang umum.
Alasannya cukup praktis, biasanya otomatisasi proses tersebut dapat membantu meningkatkan kapasitas layanan tanpa harus menambah beban tenaga kerja secara proporsional.
AI Outsourcing dari Perspektif Penyedia Alih Daya

Sebagian besar pembahasan AI outsourcing melihat masalah dari sisi perusahaan yang membeli kapabilitas AI. Padahal, penyedia jasa alih daya juga menghadapi kebutuhan yang tidak kalah kompleks.
Penyedia outsourcing harus mengelola tenaga kerja untuk banyak klien sekaligus. Artinya, mereka menghadapi tekanan operasional yang besar untuk mengelola payroll, shift, retensi karyawan, keuangan, hingga perpajakan lintas entitas.
Dari pengalaman Mekari melayani bisnis di industri outsourcing dan BPO, terdapat beberapa pola yang konsisten.
Implikasinya, keputusan AI outsourcing yang matang bagi penyedia alih daya bukan soal memilih satu model secara eksklusif.
Keputusan yang lebih tepat adalah memetakan proses mana yang cukup diselesaikan lewat software yang sudah menyematkan AI di atas data operasional yang berjalan, dan proses mana yang benar-benar membutuhkan proyek custom eksternal.
Tantangan dan Strategi Implementasi AI Outsourcing

1. Keamanan data dan tata kelola AI lintas regulasi
Menggunakan pihak ketiga untuk mengelola data operasional dan data tenaga kerja membawa risiko kepatuhan tambahan, terutama ketika AI digunakan untuk memantau tenaga kerja alih daya.
Indonesia memiliki kerangka kebijakan AI melalui Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020–2045 yang disiapkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN, 2020).
Di sisi lain, hubungan kerja dalam skema alih daya juga diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021, termasuk perlindungan hak pekerja ketika terjadi pergantian perusahaan alih daya.
Bagi penyedia alih daya yang mengadopsi AI untuk memantau kinerja atau kehadiran tenaga kerja, kepatuhan bukan hanya soal keamanan data pelanggan, melainkan juga soal memastikan output AI tidak melanggar prinsip perlindungan hak pekerja yang sudah diatur regulasi ketenagakerjaan.
2. Memilih partner dan model kontrak yang tepat
Tidak semua vendor AI maupun penyedia AIaaS memiliki tingkat transparansi dan akuntabilitas yang sama. Kesalahan memilih partner juga dapat membawa konsekuensi lebih besar dibandingkan ketika perusahaan salah memilih vendor IT konvensional.
Data yang diproses oleh sistem AI sering kali bersifat sensitif dan tidak mudah ditarik kembali setelah sistem digunakan.
Untuk itu, sebelum menandatangani kontrak jangka panjang, perusahaan Anda perlu memeriksa rekam jejak vendor, sertifikasi keamanan seperti ISO 27001, serta studi kasus di sektor yang relevan.
3. Integrasi dengan sistem bisnis yang sudah berjalan
Solusi AI yang tidak kompatibel dengan sistem operasional yang sudah ada dapat menciptakan silo data baru. Artinya, masalah integrasi justru bertambah setelah perusahaan mengadopsi AI.
Karena itu, evaluasi vendor tidak cukup hanya melihat kemampuan AI yang ditawarkan.
Selain kemampuan AI yang ditawarkan, Anda juga perlu melihat seberapa baik solusi tersebut dapat bekerja dengan data yang sudah tersimpan di sistem HR, finance, dan operasional inti.
4. Menjaga kendali dan akuntabilitas jangka panjang
Menggunakan AI outsourcing bukan berarti perusahaan menyerahkan kendali strategis atas proses bisnis kepada vendor.
Organisasi dengan tata kelola AI yang matang menetapkan KPI, laporan performa berkala, dan mekanisme audit sejak awal kontrak. Dengan begitu, perusahaan memiliki dasar yang jelas untuk mengevaluasi kinerja solusi selama masa kerja sama.
Kendali bukan berarti harus mengawasi setiap aspek teknis yang dikerjakan vendor. Yang lebih penting adalah memastikan tersedia mekanisme eskalasi ketika output AI mempengaruhi keputusan bisnis atau tenaga kerja.
Framework Keputusan Memilih Full Outsourcing, AIaaS, atau Kombinasi

Ada empat pertanyaan yang dapat membantu perusahaan Anda menentukan model yang paling sesuai.
Pertama, seberapa unik kebutuhan AI terhadap model bisnis? Semakin spesifik kebutuhannya, semakin besar kemungkinan full outsourcing menjadi pilihan yang relevan.
Kedua, apakah kebutuhan tersebut bersifat repetitif dan operasional atau sangat spesifik pada proses bisnis tertentu? Kebutuhan yang repetitif lebih cocok ditangani AIaaS, sedangkan kebutuhan yang sangat spesifik dapat mengarah ke full outsourcing.
Ketiga, seberapa cepat hasil dibutuhkan? Jika perusahaan membutuhkan time-to-value yang lebih cepat, AIaaS memiliki keunggulan karena tidak membutuhkan siklus pengembangan custom yang panjang.
Keempat, seberapa rapi data internal sudah tersimpan? Organisasi dengan data yang sudah terpusat dalam satu ekosistem memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan perusahaan yang masih mengelola data di banyak sistem terpisah.
Perubahan di pasar outsourcing juga menunjukkan adanya pergeseran model.
ISG dalam data kontrak outsourcing komersial global menunjukkan combined-market annual contract value tumbuh 16% pada kuartal terakhir, didorong pertumbuhan 26% pada layanan berbasis cloud dan konsumsi (XaaS) yang banyak membawa kapabilitas AI.
Pada periode yang sama, pertumbuhan managed services tradisional berbasis tenaga kerja relatif datar.
Apabila Anda masih menggunakan model kontrak outsourcing berbasis headcount, perubahan ini dapat menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi struktur kontrak berbasis konsumsi atau outcome yang lebih sesuai dengan model AIaaS.
Percepat Adopsi AI dengan Model yang Sesuai Bersama Mekari
Keberhasilan AI outsourcing tidak ditentukan oleh pilihan satu model secara eksklusif. Anda perlu melihat proses mana yang cukup ditangani software dengan kapabilitas AI yang sudah tersedia dan proses mana yang membutuhkan pengembangan custom dari pihak eksternal.
Di enterprise, kebutuhan tersebut berkaitan dengan konektivitas data dan proses lintas fungsi, mulai dari HR, keuangan, perpajakan, hingga customer engagement.
Jika setiap fungsi menggunakan tools yang terpisah, perusahaan harus mengelola lebih banyak titik integrasi dan pemindahan data secara manual.
Pelajari solusi ekosistem software Mekari untuk industri outsourcing dan sederhanakan pengelolaan tenaga kerja, keuangan, perpajakan, pembayaran, serta kebutuhan sistem yang terkustomisasi dalam satu ekosistem terintegrasi.
References and methodology
Methodology
Methodology
Articles published by Mekari are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.
Our editorial standards
Our editorial standards
- Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
- Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
- No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Expense is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
- Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.