13 min read

6 Tren Bisnis di 2026 dengan Data dan Strategi Implementasi

Ilustrasi Tren Bisnis 2026

Mekari Insight

  • Tren bisnis 2026 menunjukkan bahwa adopsi AI terus meningkat secara global dan di Indonesia, namun banyak organisasi masih kesulitan menskalakannya secara strategis untuk menghasilkan business value yang nyata.
  • Penerapannya tren ini didominasi oleh Agentic AI, Generative AI untuk growth, messaging & social commerce, sustainability (ESG), cybersecurity, serta customer personalization berbasis AI.
  • Mekari menyediakan ekosistem software terintegrasi untuk perusahaan yang mengimplementasikan tren bisnis 2026 di berbagai proses bisnis dengan lebih efisien, efektif, dan optimal.

Di era digital yang semakin cepat berubah, tren bisnis 2026 menjadi kunci utama bagi perusahaan untuk tetap kompetitif. 

Menurut data terbaru, 88% organisasi di seluruh dunia sudah mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, hanya satu dari tiga (33%) yang berhasil menskalakannya secara efektif. – McKinsey

Angka ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi seperti AI telah menjadi bagian integral dari operasional bisnis, banyak pemimpin perusahaan masih bingung dalam mengimplementasikannya untuk mencapai hasil maksimal.

Situasi ini tidak hanya terjadi secara global, tapi juga relevan untuk tren bisnis Indonesia 2026, di mana adopsi AI dan inovasi digital semakin mendominasi. 

Banyak eksekutif menyadari potensi besar dari AI business trends 2026, namun sering kali terjebak pada tahap eksperimen tanpa strategi yang jelas. Akibatnya, peluang pertumbuhan terlewatkan, sementara kompetitor yang lebih agile maju lebih dulu.

Artikel ini akan memberikan panduan lengkap mengenai 6 tren bisnis 2026, lengkap dengan data konkret dan strategi implementasi untuk mengatasi masalah-masalah di atas.

Baca Juga: Apakah AI Bisa Dipercaya? Ini Pertimbangannya
Tren Bisnis 2026

1. Agentic AI: Era AI yang Mengambil Tindakan

Di antara berbagai tren bisnis 2026, Agentic AI muncul sebagai salah satu game-changer yang paling revolusioner. 

Bayangkan bahwa AI tidak lagi hanya sebagai asisten pasif, melainkan sebagai agen cerdas yang mampu merencanakan, bernalar, dan mengeksekusi tugas multi-step secara otonom.

Sederhananya, agentic AI merupakan kecerdasan digital buatan yang mampu mengambil keputusan secara mandiri, mulai dari menganalisis data hingga mengotomatisasi workflow kompleks.

Proyeksi Penggunaan Agentic AI di 2026 

Chatbot AI

Statistik di berbagai perusahaan dunia menunjukkan adopsi agen AI secara pesat:

Statistik

  • Menurut proyeksi, 40% aplikasi enterprise akan mengintegrasikan AI agents pada 2026, naik drastis dari kurang dari 5% di 2025. Gartner
  • Lebih jauh lagi, 45-50% organisasi diprediksi akan mengorkestrasi AI agents pada skala besar hingga 2030.  IDC
  • Bahkan saat ini menurut Mckinsey, sudah ada 23% organisasi yang berhasil menskalakan penggunaan agentic AI.

Angka-angka ini menggarisbawahi bagaimana business trends 2026 sedang bergeser dari eksperimen ke implementasi dan orkestrasi nyata AI dan mengkolaborasikannya dengan tim manusia untuk mempercepat workflow dan mendongkrak produktivitas.

Real Agentic AI Use-Cases di Perusahaan

Contoh nyata dari perusahaan global dan lokal semakin membuktikan potensi agen AI dalam bisnis.

Beberapa contoh penerapan agen AI di perusahaan global dan hasilnya:

Salah satu contohnya adalah Telus, sebuah perusahaan telekomunikasi, yang menggunakan agen AI untuk menangani tugas rutin secara efisien. Hasilnya, lebih dari 57.000 karyawan menghemat rata-rata 40 menit per interaksi dengan AI. TelecomReviewCanada

Contoh selanjutnya adalah Suzano, perusahaan pulp dan kertas asal Brasil, yang mencatat pengurangan waktu query hingga 95% melalui AI agent yang cerdas. Google

Di Indonesia sendiri, salah satu yang telah menerapkan menggunakan agentic AI adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga negara ini memanfaatkan agen AI berupa chatbot WhatsApp, yang meningkatkan produktivitas hingga 4x lipat dan menyelesaikan 80% pertanyaan pelanggan secara otomatis. – SWA

Implementasi seperti ini menjadikan tren bisnis Indonesia 2026 semakin selaras dengan standar global.

Di luar perusahaan dan lembaga di atas, sektor yang paling cepat mengadopsi teknologi agentic AI meliputi IT, knowledge management, healthcare, tech, serta media dan telecom.

Baca Juga: Cara Membuat Aplikasi dengan AI & Use Case di Perusahaan

Strategi Implementasi Agentic AI

Untuk memanfaatkan agentic AI yang menjadi tren bisnis di tahun 2026 ini, bisnis perlu pendekatan yang terstruktur. Berikut adalah beberapa strategi atau approach yang dapat Anda terapkan:

  1. Mulai dengan pilot project di 1–2 fungsi spesifik, misalnya customer service atau proses operasional harian. Ini bertujuan untuk menguji dampak penggunaan agen AI tanpa risiko yang terlalu besar.
  2. Fokus pada hasil yang terukur (measurable outcomes) seperti dampak pada penghematan waktu, peningkatan revenue atau pengurangan cost yang tercermin melalui laporan laba rugi, atau peningkatan operational efficiency; agar ROI jelas terlihat.
  3. Bangun kemampuan tim internal untuk menciptakan dan menguji agen AI secara mandiri tanpa perlu banyak melibatkan pihak eksternal.
  4. Investasi pada AI-ready workforce serta merancang continuous learning program agar karyawan bisa berkolaborasi optimal dengan teknologi ini.
  5. Terapkan aturan 80/20, yakni 20% fokus pada teknologi dan 80% pada redesign proses kerja. Ini bertujuan agar AI benar-benar terintegrasi dan sesuai dengan proses bisnis sehingga bisa memberikan nilai maksimal.

Dengan memahami tren agentic AI dalam bisnis di 2026 beserta contoh dan strategi penerapannya di atas, Anda dapat memanfaatkan AI agents untuk deliver business value yang nyata, bukan lagi sekadar eksperimen.

2. Generative AI untuk Growth, Bukan Hanya Efisiensi

Generative AI

Selain agentic, jenis AI yang juga menjadi business trends 2026 adalah generative AI. Seperti yang mungkin telah Anda ketahui, generative AI (gen AI) adalah jenis kecerdasan buatan yang mampu membuat konten baru dengan mempelajari pola dari data-data yang sudah ada.

Dulu, banyak perusahaan memakai teknologi ini hanya untuk menghemat biaya dengan mengotomatisasi tugas rutin, mempercepat waktu produksi konten, atau mengurangi overhead.

Namun saat ini, paradigma penggunaan GenAI bergeser drastis, dari sekadar cost-cutting menuju business growth dan revenue generation.

Tren dan Proyeksi Generative AI di Tahun 2026

Tren penggunaan generative AI dan pergeserannya ini tampak dari beberapa statistik berikut:

Statistik tren penggunaan genAI secara global

  • 72% organisasi di dunia telah menggunakan GenAI pada setidaknya satu business function. Di samping efisiensi, mereka juga melihat value penggunaan AI generatif untuk drive business growth dan inovasi. – McKinsey
  • Lebih dari 80% perusahaan diperkirakan akan menggunakan APIs Gen AI atau deploy aplikasi berbasis Gen AI pada 2026. Ini menunjukkan peningkatan sebesar 5% dibanding tahun 2023. – Gartner
  • 60% eksekutif perusahaan menyatakan bahwa Responsible AI justru digunakan untuk meningkatkan ROI dan efisiensi dalam jangka panjang, bukan lagi untuk tujuan operasional semata. – Deloitte

Data-data di atas menunjukkan betapa besarnya potensi generative AI jika digunakan dalam bisnis. Di Indonesia pun tak jauh berbeda. Penggunaan generative AI di Indonesia juga mulai bergeser secara signifikan ke arah pengembangan bisnis.

Statistik penggunaan generative AI di Indonesia

  • 79% bisnis di Indonesia telah menggunakan perangkat AI generatif. Mayoritas memanfaatkan teknologi ini untuk memasarkan produk baru (65%) dan berkomunikasi dengan pelanggan (61%). – Pieter Lydian, Meta Country Director Indonesia, dikutip dari Antara.
  • Penggunaan lain dari generative AI tentu adalah untuk produksi konten. Menurut Meta, lebih dari 2 juta pengiklan telah menggunakan Gen AI untuk memproduksi konten video untuk keperluan ads mereka. Antara

Contoh Penggunaan Gen AI yang Dapat Diimplementasikan

Dari data-data di atas, dapat dilihat bahwa penggunaan generative AI cukup beragam, meliputi:

  • AI-powered customer service dengan respons yang dipersonalisasi secara real-time, meningkatkan kepuasan dan konversi penjualan.
  • Automated content creation untuk kampanye marketing: dari copywriting hingga video ads yang disesuaikan dengan audiens.
  • Predictive analytics untuk forecasting demand dan inventory. Use case ini berguna untuk mengurangi stockout sambil memaksimalkan penjualan.
  • AI-driven product recommendations & personalization di e-commerce, yang terbukti meningkatkan average order value secara signifikan.

Strategi Implementasi GenAI di Perusahaan

Agar penerapan Gen AI, termasuk use-cases di atas, benar-benar mendorong revenue dan business growth, ada beberapa strategi yang bisa Anda terapkan, antara lain:

  1. Tetapkan objective yang jelas dan berfokus pada growth dan innovation, bukan hanya penghematan biaya. Misalnya, targetkan peningkatan revenue sebesar 15–30% dari personalisasi atau konten baru.
  2. Integrasikan Responsible AI sejak awal (60% eksekutif bilang ini dapat meningkatkan ROI secara signifikan). Namun, pastikan etika, bias mitigation, dan compliance berjalan dengan baik agar tidak ada backlash.
  3. Fokus redesign workflow, bukan sekadar menambah peralatan AI. Perusahaan perlu menyesuaikan ulang proses bisnis agar Gen AI jadi bagian inti, bukan add-on.
  4. Bangun “factory infrastructure” untuk scale up: standarisasi tools, data pipelines, dan metodologi agar bisa deploy Gen AI di banyak fungsi tanpa chaos.
  5. Pindah dari grassroots crowdsourcing (karyawan coba-coba sendiri) ke top-down strategic AI programs. Jadi, implementasi AI perlu dipimpin oleh lead, manager, atau bahkan C-level dengan roadmap jelas dan budget dedicated.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Generative AI di tahun 2026 akan bertransformasi dari sekadar alat pendukung menjadi driver utama pertumbuhan bisnis.

Ini adalah peluang besar, khususnya di Indonesia, untuk melompat jauh di depan kompetitor, selama penerapan Gen AI berjalan secara strategis dan terarah.

3. Messaging & Social Commerce sebagai Sales Channel Utama

Dalam pantauan tren bisnis 2026, evolusi penjualan digital jadi semakin jelas. Channel penjualan utama mulai bergeser dari website tradisional yang statis, ke aplikasi messaging dan platform sosial yang dinamis.

Di Indonesia, perubahan ini sangat terasa karena perilaku konsumen yang mobile-first dan chat-heavy. Sebab, prospek dan pelanggan lebih suka bertanya langsung via WhatsApp, DM Instagram, Messenger, atau platform lain yang lebih ‘langsung’ daripada membuka website secara terpisah.

Tren Penggunaan Messaging & Social Commerce sebagai Kanal Penjualan

Hal ini dapat dilihat dari beberapa data utama, seperti:

  • TikTok Shop, Instagram Shopping, dan WhatsApp Business semakin dominan sebagai kanal penjualan utama.
  • Live shopping dan video interaktif menjadi pendorong penjualan terbesar: konten video singkat seperti Reels atau live stream mendorong impulse buy secara masif.
  • Lebih dari 2 juta pengiklan di Meta menggunakan Generative AI untuk membuat video ads yang lebih cepat, targeted, dan interaktif.

Meta sendiri ikut memetakan 5 tren utama untuk bisnis Indonesia di 2026 yang sangat relevan di sini:

  • Gen AI untuk personalisasi journey pembelian.
  • Agen AI untuk messaging (WhatsApp, Instagram DM, Messenger).
  • Ekosistem kreator dengan AI untuk konten lokal yang autentik.
  • Video & live commerce sebagai primary sales channel.
  • Cross-border commerce & ekonomi halal.

Contoh Implementasi

Dari data dan peta tren bisnis utama di atas, ada beberapa contoh implementasi utama yang dapat dilakukan untuk mengikuti tren ini, antara lain:

  • Chatbot AI di WhatsApp untuk customer service 24/7: jawab pertanyaan, proses order, hingga follow-up pembayaran tanpa tunggu agen manusia.
  • Instagram Reels dengan product links: pengguna langsung tap untuk beli tanpa keluar app, tingkatkan konversi hingga signifikan.
  • Live shopping events dengan AI recommendations: host menampilkan produk secara live, AI sarankan item berdasarkan preferensi penonton real-time.
  • Personalized messaging campaigns via WhatsApp Business: kirim promo khusus berdasarkan riwayat chat sebelumnya, tingkatkan repeat purchase.

Strategi Penerapan Messaging & Social Commerce sebagai Sales Channel

Untuk menjadikan messaging dan social commerce sebagai sales channel utama di tren bisnis Indonesia 2026 dan menerapkan contoh-contoh di atas secara efektif, Anda dapat mengikuti strategi berikut:

  1. Integrasikan messaging sebagai saluran penjualan utama: Jadikan WhatsApp/Instagram DM sebagai “toko virtual” untuk akuisisi pelanggan, bukan sekadar support system.
  2. Investasi pada AI agents untuk handle customer inquiries secara otonom: Anda bisa mulai menggunakannya untuk jawab FAQ hingga proses transaksi sederhana.
  3. Prioritaskan konten video imersif (Live & Reels) untuk sales: Buat konten pendek yang engaging dan tambahkan fitur pembelian (seperti keranjang kuning dan sejenisnya) untuk membeli langsung di video.
  4. Kolaborasi dengan kreator melalui model afiliasi terukur: Pilih influencer lokal yang sesuai audience, dengan riwayat performa yang baik, serta track performance via link unik.
  5. Optimize untuk mobile-first experiences: Pastikan semua touchpoint cepat, seamless, dan ramah di HP (karena mayoritas transaksi di Indonesia via mobile).

Selain 5 strategi general di atas, Anda juga dapat memanfaatkan peluang khusus di Indonesia sebagai strategi tambahan yang tak kalah efektif, seperti:

  • Ekonomi halal: Peluang ekspor produk halal Indonesia (fashion, F&B, kosmetik) ke pasar global Muslim. Gunakan social commerce untuk showcase sertifikasi halal dan cerita autentik.
  • Cross-border commerce: Infrastruktur digital Indonesia semakin matang (logistik, payment gateway internasional). Ini sangat memudahkan penjualan ke luar negeri via platform seperti Instagram Shopping atau TikTok Shop.

Dengan mengadopsi tren ini, bisnis tidak lagi bergantung pada website konvensional, tapi memanfaatkan percakapan sehari-hari konsumen untuk closing sales. Di pasar seperti Indonesia yang chat-centric, ini bisa jadi diferensiasi besar.

4. Sustainability & ESG sebagai Competitive Advantage

Komponen ESG & Sustainability

Di tahun 2026, sustainability dan ESG (Environmental, Social, Governance) bukan lagi sekadar hal yang “nice to have”. Konsep ini sudah menjadi business imperative atau keharusan bagi bisnis bahkan menentukan keberlanjutan dan daya saing jangka panjang.

Sebab, konsumen, investor, dan regulator semakin menuntut perusahaan untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Oleh karena itu, bisnis dan perusahaan yang mengabaikannya berisiko kehilangan talenta, pelanggan, dan akses modal.

Statistik Penerapan ESG di Proses Bisnis

Pentingnya ESG dalam bisnis di 2026 bukan sekadar asumsi belaka, melainkan didukung dengan berbagai data yang konkret dan terukur, antara lain:

Tren & Statistik Penerapan ESG dalam Bisnis 2026

  • 89% investor mempertimbangkan faktor ESG dalam keputusan investasi mereka. Capital Group
  • 75% bisnis saat ini menganggap sirkularitas (circular economy) penting. Angka ini naik tajam dari hanya 40% di 2021. (World Economic Forum)
  • 95% bisnis diperkirakan akan menganggap ekonomi sirkular sebagai prioritas utama dalam 3 tahun ke depan (termasuk 2026–2029). (World Economic Forum)
  • 86% pembeli (khususnya di industri beauty) menginginkan transparansi penuh tentang produk, termasuk bahan, sumber, dan dampak lingkungan. (GoodStats)

Tren ESG di tahun 2026 ini juga didorong oleh regulasi yang semakin ketat (seperti EU Green Deal dan Extended Producer Responsibility). 

Tak hanya itu, dorongan juga muncul dari investor untuk return berkelanjutan serta ekspektasi konsumen yang menuntut produk ramah lingkungan tanpa mengorbankan kualitas.

Cara Menerapkan ESG & Strategi Sustainability dalam Bisnis 2026

Untuk menjadikan sustainability sebagai competitive advantage dalam lanskap tren bisnis 2026, lakukan secara bertahap dan terintegrasi. Anda bisa mengikuti panduan berikut:

  1. Lakukan assessment circular untuk menemukan opportunities across seluruh lifecycle produk: Identifikasi di mana Anda bisa kurangi waste, reuse material, atau redesign produk agar lebih tahan lama.
  2. Expand reuse & take-back programs: Jalankan program-program seperti pengembalian kemasan atau produk bekas untuk di-recycle ulang.
  3. Invest di recycled materials & sustainable packaging: Ganti bahan baru dengan hasil daur ulang ataupun bio-based untuk kurangi jejak karbon dan biaya jangka panjang.
  4. Ukur dan buat report ESG impact secara kuantitatif dan transparan: Gunakan metrik-metrik yang jelas, misalnya carbon footprint, water usage, dan publikasikan laporan tahunan untuk membangun kepercayaan banyak pihak.
  5. Jadikan ESG metrics sebagai bagian dari KPI bisnis: Jadikan target sustainability bagian dari evaluasi performa tim.
  6. Komunikasikan inisiatif terkait sustainability sebagai brand differentiator: Ceritakan story autentik melalui marketing untuk attract customers dan talent yang value-driven.

Dengan menerapkan sustainability sejak dini, perusahaan tidak hanya memenuhi tuntutan eksternal, tapi juga menarik investor, pelanggan peduli lingkungan yang loyal, dan talenta terbaik yang mencari employer yang lebih ‘bermakna’. 

5. Cybersecurity & Data Protection sebagai Business Foundation

Beberapa tren sebelumnya menunjukkan bahwa bisnis benar-benar mengarah ke transformasi digital yang menyeluruh. Oleh karena itu, untuk memastikan keamanan, cybersecurity menjadi pondasi bisnis yang sangat krusial. 

Semakin banyak perusahaan bergantung pada teknologi, semakin tinggi pula risikonya. Serangan siber tidak hanya mengganggu operasional, tapi bisa menghancurkan reputasi, kehilangan data pelanggan, hingga kerugian finansial miliaran rupiah. 

Dengan demikian, cybersecurity tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah IT biasa, melainkan risiko fundamental bagi bisnis yang butuh perhatian C-level.

Di Indonesia sendiri, urgensinya terasa lebih nyata karena lonjakan serangan yang ekstrem.

Akan tetapi, data menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan.

  • Hanya sekitar 11% perusahaan Indonesia yang berada di tingkat mature dalam cybersecurity readiness (Cisco, dikutip dari WartaEkonomi).
  • BSSN mencatat 3,64 miliar serangan siber (anomali trafik) sepanjang Januari–Juli 2025 saja — rata-rata 9 serangan per detik, angka yang mengkhawatirkan dan menunjukkan tren peningkatan signifikan. Tempo
  • Sebagian besar organisasi masih berada di tahap progresif atau awal dalam membangun pertahanan digital, membuat mereka rentan terhadap serangan seperti ransomware, phishing, dan DDoS yang terus meningkat.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan cybersecurity benar-benar mendesak untuk segera disempurnakan.

Strategi untuk Memperkuat Cybersecurity

Nah, untuk menyempurnakannya dan menjadikan cybersecurity sebagai fondasi bisnis yang kuat, Anda dapat mengikuti strategi implementasi berikut:

  1. Bangun comprehensive cybersecurity strategy yang dengan pendekatan yang lebih prediktif, bukan lagi reaktif. Anda bisa memulainya pencegahan dan scale up hingga recovery.
  2. Investasi pada teknologi keamanan dan talenta yang lebih ahli, termasuk tools canggih seperti EDR, SIEM, dan tim cybersecurity yang dedicated.
  3. Lakukan regular security audits dan penetration testing secara berkala untuk identifikasi celah sebelum dieksploitasi.
  4. Prioritaskan employee training on security best practices. Sebab, human error masih jadi salah satu penyebab utama adanya breach dalam sistem.
  5. Implementasikan data governance frameworks yang robust: Klasifikasi data, access control, dan compliance dengan UU PDP.
  6. Siapkan incident response plans yang tested dan updated secara rutin, termasuk simulasi tabletop exercises.
  7. Pertimbangkan insurance coverage untuk cyber risks agar dampak finansial bisa diminimalkan.

Dengan pendekatan ini, bisnis tidak hanya melindungi aset digital, tapi juga membangun kepercayaan pelanggan dan investor. 

Cybersecurity yang solid juga menjadi syarat untuk ekspansi digital, terutama di sektor fintech, e-commerce, dan layanan publik.

6. Customer Personalization & Experience di Era AI

Di tahun 2026, ekspektasi konsumen sudah naik drastis. Pelanggan tidak lagi puas dengan pengalaman standar atau one-size-fits-all. Mereka ingin diperlakukan seperti VIP yang mana penyedia harus tahu preferensi mereka, mengantisipasi kebutuhan sebelum diminta, dan memberikan pengalaman yang seamless di semua channel.

Untungnya, AI memungkinkan hyper-personalization pada skala besar, mengubah chatbot scripted menjadi layanan concierge-style yang proaktif dan cerdas.

Komponen Utama Personalization di 2026

Ada 6 komponen personalisasi utama untuk pelanggan yang bisa Anda terapkan dengan bantuan AI di tahun 2026: 

  1. AI-powered recommendations berdasarkan perilaku dan preferensi audiens secara real-time.
  2. Predictive analytics untuk mengantisipasi kebutuhan pelanggan yang mungkin belum disadari.
  3. Omnichannel experiences yang benar-benar seamless antar platform.
  4. Personalisasi real-time di setiap touchpoint seperti website, sosial media app, chat, dan email.
  5. Voice AI dan conversational interfaces yang natural, sehingga saat pelanggan menghubungi, mereka bisa merasa seperti bicara dengan manusia.
  6. Proactive customer service: AI mendeteksi masalah potensial dan menyelesaikannya sebelum pelanggan komplain.

Tren Personalisasi Pengalaman Pelanggan di Indonesia

Selain personalisasi secara general di atas, ada beberapa komponen khusus yang bisa menjadi tren bisnis 2026 di Indonesia, antara lain.

  • Social commerce personalization lewat TikTok Shop dan Instagram Shopping yang menghadirkan rekomendasi produk langsung di feed atau live.
  • WhatsApp Business untuk customer service yang lebih personal lewat chat yang mampu mengingat riwayat sebelumnya untuk memberikan promo yang relevan.
  • AI-driven product recommendations di platform e-commerce lokal untuk meningkatkan cart value dan repeat purchase.
  • Live shopping dengan pengalaman interaktif dan personalized, di mana host bisa menyarankan produk berdasarkan komentar penonton secara real-time.

Strategi Implementasi Customer Personalization & Experience

Agar dapat mengaplikasikan beberapa tren personalisasi dan peningkatan pengalaman pelanggan di atas, Anda dapat menerapkan strategi-strategi berikut:

  1. Collect & unify customer data dari semua channel menggunakan Customer Data Platform (CDP): Pastikan data clean, terintegrasi, dan up-to-date.
  2. Implementasikan AI untuk analyze patterns dan preferences: Gunakan machine learning untuk segmentasi pelanggan yang lebih akurat.
  3. Create personalized content & penawaran berskala: Mulai dari email, push notification, hingga rekomendasi produk dinamis.
  4. Train AI agents untuk handle personalized interactions: Mulai dari chat hingga voice, agar respons terasa manusiawi dan kontekstual.
  5. Test & iterate berdasarkan customer feedback: Gunakan A/B testing dan NPS untuk terus improve.
  6. Balance personalization dengan privacy concerns: Patuhi UU PDP, beri transparansi, dan sediakan opt-out yang mudah.

Dengan pendekatan yang menjadi tren ini, bisnis bisa meningkatkan customer loyalty, average order value, dan lifetime value secara signifikan sekaligus mengurangi churn rate karena pelanggan merasa “dipahami”.

Kesimpulan: Mempersiapkan Bisnis untuk Sukses di 2026

Tahun 2026 menjadi turning point penting bagi dunia bisnis. AI sudah mulai berevolusi dari tahap eksperimen ke penciptaan nilai bisnis nyata dan terukur. 

Berikut recap enam tren utama yang wajib dipahami dan dipertimbangkan oleh setiap pemilik usaha:

  1. Agentic AI yang otonom dan mengambil tindakan.
  2. Generative AI untuk growth dan revenue generation.
  3. Messaging & social commerce sebagai sales channel utama.
  4. Sustainability & ESG sebagai competitive advantage.
  5. Cybersecurity & data protection sebagai fondasi bisnis.
  6. Customer personalization & experience di era AI.

Indonesia berada di posisi yang sangat baik untuk memanfaatkan momentum ini. Pertumbuhan ekonomi stabil sekitar 5,1%, ekonomi digital mencapai USD 146 miliar (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI), serta adopsi AI yang tinggi di kalangan UKM, mencapai angka 79% (SWA) menjadi entri poin yang positif. 

Sukses bukan tentang mengadopsi semua tren sekaligus, melainkan memilih dan mengimplementasikan tren dengan strategi yang paling sesuai dengan konteks bisnis Anda.

Tahun 2026 menawarkan peluang luar biasa bagi bisnis Indonesia yang siap bertransformasi. 

Dengan ekonomi yang stabil, teknologi yang semakin accessible, dan momentum digital yang kuat, saatnya untuk memimpin perubahan — bukan hanya mengikutinya. 

Bisnis yang memahami dan mengimplementasikan tren-tren ini secara strategis tidak hanya akan survive, tapi thrive di era digital yang semakin kompetitif.

Solusi Integrasi untuk Implementasi Tren Bisnis 2026

Ekosistem Software Terpadu Mekari untuk bantu perusahaan mengimplementasikan tren bisnis 2026

Untuk menerapkan berbagai tren bisnis 2026 di atas dengan lebih efisien dan efektif, Anda perlu solusi terintegrasi yang bisa menjangkau beberapa tren sekaligus dengan efektif.

Mekari menawarkan ekosistem software terintegrasi untuk mendukung perusahaan mengimplementasikan tren bisnis 2026 di berbagai proses bisnis. 

Berikut adalah bagaimana Mekari dapat mendukung perkembangan perusahaan Anda berdasarkan tren bisnis yang ada:

  • Mekari Qontak menyediakan AI agents seperti chatbot otomatis yang bisa menangani tugas multi-langkah, seperti mengelola inquiries pelanggan secara otonom. 
  • Anda dapat mengintegrasikan chatbot AI Mekari Qontak dengan sistem lain menggunakan Mekari Officeless yang dapat membangun custom AI workflows menggunakan low-code/no-code, sehingga bisnis bisa scale agentic AI tanpa coding rumit.
  • Mekari Qontak juga menawarkan solusi komunikasi pelanggan omnichannel dengan integrasi langsung ke WhatsApp Business API.
  • Chatbot AI dan CRM Omnichannel Mekari Qontak juga dapat menyimpan riwayat preferensi pelanggan sehingga Anda dapat menerapkan personalisasi untuk meningkatkan pengalaman mereka.
  • Mekari Sign dan Mekari Expense mempromosikan paperless operations melalui tanda tangan digital dan pengelolaan expense dan reimbursement tanpa kertas, sehingga dapat mengurangi waste secara signifikan.
  • Terakhir, seluruh produk Mekari sudah tersertifikasi ISO 27001 untuk membantu perusahaan melindungi aset informasi, seperti data pelanggan, kekayaan intelektual, dan data keuangan sehingga setiap sistem yang Anda gunakan terjamin keamanannya.

Tunggu apa lagi? Persiapkan bisnis Anda untuk sukses menghadapi seluruh tren bisnis 2026 bersama ekosistem software terintegrasi dari Mekari.

References

McKinsey. “The state of AI in 2025: Agents, innovation, and transformation”

Deloitte. “AI is capturing the digital dollar”

Topik:
Keluar

WhatsApp WhatsApp kami