4 min read

Overselling: Penyebab, Dampak, dan Cara Mencegahnya di Marketplace

overselling

Mekari Insight

  • Overselling merupakan masalah yang seringkali terjadi ketika jumlah pesanan melebihi stok akibat data inventaris yang tidak akurat.
  • Penyebab utama overselling meliputi stok tidak sinkron, pencatatan manual, dan lonjakan pesanan.
  • Dampaknya overselling mencakup penurunan rating toko, hilangnya kepercayaan pelanggan, dan potensi sanksi marketplace.
  • Beberapa hal sebagai pencegahan overselling membutuhkan stock opname rutin, safety stock, dan sistem pre-order.

Dalam bisnis online dan penjualan di marketplace, kecepatan dan ketersediaan stok menjadi faktor penting dalam menjaga kepuasan pelanggan.

Namun, seiring bertambahnya channel penjualan dan meningkatnya volume pesanan, pengelolaan stok sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi penjual.

Jika tidak dikelola dengan sistem yang tepat, kondisi ini dapat memicu masalah serius seperti pesanan yang tidak terpenuhi, pembatalan transaksi, hingga menurunnya reputasi toko.

Salah satu masalah yang paling sering muncul akibat pengelolaan stok yang kurang rapi adalah overselling. Masalah ini dapat menyebabkan kerugian dalam bisnis jika tidak diatasi dengan tepat.

Apa Itu Overselling

Overselling adalah kondisi ketika jumlah pesanan yang masuk melebihi stok barang yang tersedia.

Situasi ini biasanya terjadi karena data persediaan tidak akurat atau tidak diperbarui secara real-time, terutama saat bisnis berjualan di lebih dari satu channel.

Sebagai contoh, sebuah produk tercatat terjual 30 unit, padahal stok yang tersedia di gudang hanya 25 unit.

Akibatnya, sebagian pesanan tidak dapat dipenuhi dan penjual harus melakukan pembatalan. Jika kondisi ini terjadi berulang, overselling dapat mengganggu operasional dan menurunkan kepercayaan pelanggan.

Penyebab Terjadinya Overselling

Lantas apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya overselling pada suatu bisnis?

1. Pembaruan stok tidak sinkron

Overselling sering dipicu oleh perbedaan data stok antara gudang, toko, dan marketplace. Ketika terjadi penjualan, stok tidak langsung diperbarui karena proses manual atau keterbatasan sistem, sehingga produk tetap terlihat tersedia meski stok sebenarnya menipis.

2. Tidak menggunakan sistem manajemen inventaris

Banyak penjual masih mengandalkan pencatatan manual atau spreadsheet untuk mengelola stok. Cara ini berisiko menimbulkan kesalahan input dan keterlambatan pembaruan data. Tanpa inventory management system (IMS), sinkronisasi stok antar marketplace tidak berjalan optimal.

3. Tidak melakukan stock opname secara rutin

Tanpa stock opname, penjual tidak memiliki gambaran stok aktual di gudang. Selisih antara data dan kondisi fisik barang membuat bisnis tidak siap menghadapi lonjakan permintaan.

4. Lonjakan pesanan pada momen tertentu

Campaign promosi, peluncuran produk baru, produk viral, atau momen musiman seperti hari raya sering memicu lonjakan pesanan dalam waktu singkat. Tanpa perencanaan stok yang matang, risiko overselling semakin besar.

5. Menerima pesanan di luar marketplace

Selain marketplace, banyak penjual menerima pesanan melalui WhatsApp, media sosial, atau kanal lain. Jika pesanan dari channel ini tidak langsung tercatat dan mengurangi stok, data inventaris menjadi tidak akurat.

Baca Juga: Cara Menghitung Buffer Stock dan Pencegahannya

Dampak Negatif Overselling bagi Bisnis

Setidaknya overselling akan menyebabkan beberapa dampak negatif yang perlu Anda ketahui dan waspadai. Dampak ini akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap bisnis Anda di marketplace

Menurunkan performa toko di marketplace

Pembatalan pesanan sering berujung pada rating rendah dan ulasan negatif. Hal ini memengaruhi reputasi toko dan peluang tampil di hasil pencarian atau rekomendasi marketplace.

Mengurangi kepercayaan pelanggan

Pelanggan yang pesannya dibatalkan cenderung kecewa, terutama jika tidak ada komunikasi atau solusi yang jelas. Kepercayaan yang menurun sulit dipulihkan jika kesalahan terjadi berulang.

Tingginya tingkat pembatalan pesanan

Ketidaksesuaian stok memaksa penjual atau pembeli membatalkan transaksi. Tingkat pembatalan yang tinggi menjadi indikator buruk bagi performa toko.

Potensi kerugian finansial

Pembatalan pesanan biasanya diikuti proses refund. Penjual tidak memperoleh pemasukan, sementara biaya operasional tetap berjalan.

Risiko sanksi dari marketplace

Marketplace dapat memberikan sanksi berupa penurunan performa akun, pembatasan fitur, hingga penutupan toko jika overselling sering terjadi dan disertai banyak komplain.

Pelanggan beralih ke kompetitor

Jika kompetitor memiliki stok siap, proses cepat, dan pelayanan lebih baik, pelanggan akan dengan mudah berpindah dan berpotensi menjadi pelanggan loyal kompetitor.

Cara Mencegah Overselling Terulang

1. Lakukan stock opname secara berkala

Jadikan stock opname sebagai agenda rutin untuk memastikan data stok di sistem sesuai dengan kondisi fisik barang di gudang.

Proses ini membantu mendeteksi selisih stok lebih awal, baik akibat kesalahan pencatatan, kehilangan barang, maupun retur yang belum tercatat. Dengan data yang akurat, penjual dapat mengambil keputusan stok dengan lebih tepat.

Anda bisa mempelajari secara lengkap seputar panduan melakukan stock opname.

2. Siapkan safety stock untuk produk tertentu

Safety stock berfungsi sebagai cadangan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang tidak terduga.

Stok cadangan ini penting terutama untuk produk best seller, produk baru, atau item limited edition yang memiliki perputaran cepat.

Dengan safety stock, bisnis tetap bisa memenuhi pesanan meskipun terjadi peningkatan permintaan mendadak.

3. Gunakan aplikasi omnichannel dengan inventory management system

Aplikasi omnichannel membantu menyinkronkan stok secara otomatis di seluruh marketplace dan channel penjualan.

Setiap transaksi yang masuk akan langsung mengurangi stok secara real-time, sehingga risiko perbedaan data antar channel dapat diminimalkan. Cara ini jauh lebih aman dibanding pembaruan stok manual yang rawan kesalahan.

4. Terapkan sistem pre-order untuk produk tertentu

Sistem pre-order membantu penjual membatasi jumlah pesanan sesuai kapasitas produksi atau stok yang tersedia.

Dengan skema ini, penjual dapat mengatur jadwal pengiriman dengan lebih terencana.

Penerapan pembayaran di awal juga membantu memastikan komitmen pembeli dan menjaga arus kas tetap stabil.

Baca Juga: Apa itu Warehouse Management System (WMS) dan Pentingnya untuk Bisnis

5. Prioritaskan penjualan stok lama

Strategi ini membantu mempercepat perputaran stok, terutama untuk produk dengan masa simpan terbatas atau yang sudah lama tersimpan di gudang.

Penjual dapat mengombinasikannya dengan promo khusus atau diskon agar stok lama lebih cepat terjual, sekaligus mengurangi risiko penumpukan dan kerugian akibat barang tidak terpakai.

Atasi Overselling dengan Software Manajemen Gudang

Overselling umumnya terjadi karena stok tidak terpantau secara akurat. Untuk menghindarinya, bisnis membutuhkan sistem yang mampu memantau dan memperbarui stok secara otomatis di berbagai channel penjualan.

Software manajemen gudang Mekari Desty (WMS) membantu mengelola inventaris dengan pembaruan stok real-time melalui sistem terintegrasi dan API.

Setiap transaksi di satu channel akan langsung tercermin di channel lain, sehingga risiko overselling dapat ditekan secara signifikan.

Kesimpulan

Overselling dapat berdampak langsung pada reputasi, operasional, dan keuangan bisnis. Masalah ini umumnya muncul akibat pengelolaan stok yang tidak terstruktur dan tidak terintegrasi antar channel penjualan.

Dengan manajemen inventaris yang rapi serta dukungan aplikasi omnichannel seperti Mekari Desty, bisnis dapat memantau stok secara real-time, mengurangi kesalahan pencatatan, dan menjalankan operasional penjualan dengan lebih aman dan terkendali.

Keluar

WhatsApp WhatsApp kami