Image

Payback Period Adalah: Definisi, Keuntungan, Kerugian, Rumus, dan Contohnya

Capital budgeting merupakan salah satu fungsi utama dalam pengelolaan keuangan. Dan salah satu metode untuk menerapkan capital budgeting adalah dengan payback period.

Selama menjalankan bisnis, Anda pasti akan menemukan berbagai peluang yang mengarah pada perluasan proyek yang ada atau menciptakan proyek baru.

Idealnya, Anda tentu tidak ingin menyia-nyiakan peluang yang bagus tersebut. Akan tetapi, karena keterbatasan modal, Anda diharuskan untuk memilih di antara proyek berpotensi.

Payback period merupakan metode capital budgeting paling populer yang digunakan oleh pebisnis untuk mengelola keuangannya.

Lalu, apa itu payback period? Yuk, cari tahu informasi lebih lanjut mengenai payback period, mulai dari pengertian, fungsi, kelebihan, kekurangan, rumus, hingga contoh penerapannya.

akuntan menghitung payback period dengan kalkulator dan peralatan yang ada diatas meja

Pengertian Payback Period

Payback period adalah waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan biaya awal suatu investasi.

Ini bisa juga diartikan sebagai jumlah tahun yang diperlukan untuk mendapatkan kembali investasi awal yang dibuat untuk sebuah proyek.

Oleh karena itu, payback period kerap digunakan untuk mengetahui rasio jumlah tahun yang diperlukan suatu proyek untuk mendapatkan kembali investasi awal.

Proyek dengan jumlah tahun paling sedikit artinya proyek tersebut lebih berpotensi.

Dalam pengertian yang sederhana, payback period adalah lamanya waktu yang dibutuhkan suatu investasi untuk mengembalikan modalnya.

Biasanya metode ini digunakan untuk investasi yang melibatkan pengeluaran modal awal yang besar.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka Anda dapat mengetahui bahwa payback period menunjukkan berapa lama waktu yang dibutuhkan bisnis untuk menutup investasi.

Metode ini dapat membantu perusahaan untuk membandingkan peluang investasi alternatif dan memutuskan proyek mana yang pengembalian investasinya paling cepat.

Misalnya, jika total biaya dua proyek A dan B masing-masing adalah Rp. 200.000.000.

Namun, arus kas pendapatan dari kedua proyek yang dihasilkan setiap tahun masing-masing adalah Rp. 40.000.000 dan Rp. 50.000.000.

Dari data tersebut maka, payback period untuk proyek A adalah lima tahun, sedangkan untuk proyek B adalah empat tahun.

Dalam hal ini, proyek B memiliki payback period yang paling singkat.

Fungsi Payback Period

Fungsi dari payback period adalah untuk investasi yang melibatkan pengeluaran modal awal yang besar.

Sebut saja pembangunan fasilitas industri, atau pengembangan produk perangkat lunak. Semakin pendek periode pengembalian modal, maka semakin menarik pula investasi itu.

Kegunaan lain dari payback period adalah untuk membantu Anda dalam membuat keputusan investasi.

Perusahaan biasanya memiliki pilihan di antara banyak proyek untuk dilakukan, dan masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya tersendiri.

Di sinilah fungsi utama dari payback period adalah dapat digunakan sebagai alat pengambilan keputusan.

Payback period yang singkat akan dengan cepat mengalir ke arus kas dan neraca bisnis.

Dalam bisnis, payback period adalah metrik yang ideal untuk mengetahui apakah investasi awal yang besar menghasilkan pengembalian yang stabil dari waktu ke waktu.

Biasanya pengembalian ini disertai dengan risiko proyek yang cukup besar sehingga payback period yang cepat akan mengurangi risiko pasar dalam melakukan investasi.

Rumus Payback Period dan Cara Menghitungnya

Setelah mengetahui pengertian dan fungsinya, Anda juga harus tahu bagaimana formula atau rumus payback period beserta cara menghitungnya.

Berikut ini rumus payback period yang umum digunakan:

Payback period = Total investasi awal : Kas pendapatan per tahun

Misalnya, sebuah perusahaan melakukan sebuah proyek dan harus mengeluarkan investasi awal sebesar Rp. 14 miliar.

Proyek tersebut menghasilkan arus kas pendapatan sebesar Rp. 3,5 miliar per tahun pendapatan.

Dengan demikian payback period dari proyek tersebut adalah Rp. 4 miliar / Rp. 3,5 miliar = 4 tahun.

Contoh lain, misalnya Anda telah menginvestasikan Rp. 1 miliar ke dalam suatu proyek dengan arus kas tahunan sebesar Rp 200 juta.

Maka, payback period adalah Rp. 1 miliar/ Rp. 200 juta = 5 tahun.

Menggunakan metode ini, Anda juga dapat menghitung periode pengembalian untuk arus kas yang tidak merata.

Misalnya, Anda telah menginvestasikan Rp. 3 miliar dalam sebuah proyek dan Anda mengharapkan pengembalian sebesar Rp. 1 miliar pada tahun pertama proyek.

Kemudian Anda juga menginginkan adanya pengembalian sejumlah Rp. 800 juta pada tahun kedua, Rp. 700 juta pada tahun ketiga proyek, dan Rp. 500 juta pada tahun keempat proyek.

Maka, payback period dari proyek tersebut adalah sebagai berikut:

Payback period = Tahun sebelum pemulihan penuh + (Investasi awal – Total biaya yang belum dipulihkan) / Arus kas tahun terakhir

= 3 + {(Rp. 3 miliar – Rp. 2,5 miliar) / Rp. 500 juta}
= 3 + (Rp. 500 juta / Rp. 500 juta)
= 3 + 1
= 4 tahun

Baca juga: Inilah Metode dan Cara Menghitung Biaya Penyusutan dalam Laporan Keuangan

Keuntungan Menggunakan Payback Period

Ada beberapa kelebihan yang menjadikan metode payback period sangat populer digunakan oleh perusahaan untuk mengelola keuangannya. Simak penjelasannya di bawah ini:

1. Mudah Digunakan dan Mudah Dimengerti

Ini merupakan salah satu keuntungan paling signifikan dari payback period.

Metode ini membutuhkan input yang relatif lebih sedikit dan lebih mudah untuk dihitung daripada metode capital budgeting lainnya.

Yang Anda butuhkan untuk menghitung payback period adalah total biaya investasi awal proyek dan arus kas tahunan.

Meskipun metode lain juga menggunakan input yang sama, namun cenderung membutuhkan lebih banyak asumsi.

Misalnya, input biaya modal yang digunakan metode lain mengharuskan Anda untuk membuat beberapa asumsi.

2. Membantu Mengurangi Resiko Kerugian

Sebuah proyek dengan payback period yang pendek menunjukkan efisiensi dan meningkatkan posisi likuiditas perusahaan.

Ini juga berarti bahwa proyek tersebut menanggung lebih sedikit risiko. Oleh sebab itulah, payback period sangat cocok diterapkan pada usaha kecil dengan sumber daya terbatas.

Selain itu, payback period yang singkat juga dapat mengurangi risiko kerugian yang disebabkan oleh perubahan situasi ekonomi.

3. Mengutamakan Likuiditas

Payback period berisi informasi penting yang tidak terdapat di metode capital budgeting lainnya. Informasi tersebut sangat penting untuk usaha kecil dengan modal terbatas.

Sebagaimana Anda tahu bahwa kebanyakan bisnis berskala kecil perlu segera memulihkan keuangan mereka untuk menginvestasikannya kembali dalam peluang atau proyek lain.

Jadi, dengan menggunakan payback period, pengusaha bisnis kecil mampu mengetahui likuiditas usaha mereka dengan lebih baik untuk kesehatan finansial mereka.

Selain itu, pengusaha bisnis kecil dianjurkan menggunakan aplikasi CRM untuk mempertahankan hubungan mereka dengan pelanggan sehingga walau dengan customer base yang kecil, dapat tetap mensupport bisnis kecil tersebut sehingga hanya perlu fokus untuk mendapatkan pelanggan baru, tidak perlu terlalu khawatir kehilangan pelanggan lama.

Kerugian Menggunakan Payback Period

Seperti halnya metode capital budgeting lainnya, payback period pun memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Mengabaikan Nilai Waktu dari Uang

Ini adalah salah satu kelemahan utama dari payback period, yakni mengabaikan nilai waktu uang yang merupakan konsep bisnis yang sangat penting.

Sesuai konsep nilai waktu uang, uang yang diterima lebih cepat bernilai lebih tinggi karena potensinya untuk memperoleh pengembalian tambahan jika diinvestasikan kembali.

Dan metode ini tidak mempertimbangkan hal seperti itu, sehingga mendistorsi nilai sebenarnya dari arus kas.

2. Tidak Semua Arus Kas Tercakup

Metode ini mempertimbangkan arus kas hanya sampai saat investasi awal dipulihkan. Namun, kurang mempertimbangkan arus kas yang datang di periode berikutnya.

Informasi arus kas yang terbatas itu mungkin memaksa Anda untuk mengabaikan proyek yang berpotensi menghasilkan arus kas lebih menguntungkan di periode selanjutnya.

Salah satu solusi yang dapat membantu anda mencatat dan memonitor berbagai arus kas adalah dengan menggunakan software pembukuan dengan berbagai fiturnya yang dapat diintegrasikan sehingga hal-hal seperti pembukuan dapat di otomatisasi.

3. Mengabaikan Profitabilitas

Sebuah proyek dengan periode pengembalian yang lebih pendek tidak menjamin bahwa itu akan menguntungkan.

Anda juga harus mempertimbangkan bagaimana jika arus kas dari proyek berhenti pada periode pengembalian modal, atau berkurang setelah periode pengembalian modal.

Nah, itulah beberapa informasi terkait metode payback period yang perlu Anda ketahui supaya pengelolaan keuangan bisnis Anda menjadi lebih baik.

Masing-masing metode manajemen modal pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun teknik ini bisa jadi alternatif yang cocok untuk Anda

Karir
Karir

Kembangkan karir bersama Mekari

Mari berkembang dan menjadi bagian dari perubahan bersama talenta-talenta terbaik dari manca negara di Mekari.

Hubungi kami
Hubungi kami

Selalu siap membantu Anda

Bagi Anda yang membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi kami melalui kontak yang disediakan.

WhatsApp WhatsApp kami