7 min read

Technical Debt: Panduan & Cara Mengurangi hingga 50%

mekari officeless technical debt featured image

Mekari Insight

  • Technical debt bukan soal salah atau benar, tapi soal kesadaran dan pengelolaan. Shortcut teknis bisa jadi keputusan bisnis yang masuk akal, selama debt-nya transparan, terukur, dan dilunasi secara bertahap sebelum menghambat skala dan inovasi.
  • Tidak semua masalah adalah technical debt, klasifikasi menentukan solusi. Membedakan technical debt dari feature, UX, quality, process, dan skill debt membantu perusahaan fokus memperbaiki akar masalah, bukan sekadar menambal gejala.
  • Low code no code membantu menekan technical debt sejak awal pengembangan. Dengan pendekatan terstandar dan iteratif, platform seperti Mekari Officeless yang mendemokratisasi pembuatan aplikasi bisnis, otomasi workflow, dan analytics, memungkinkan perusahaan membangun solusi inovatif yang scalable.

Di balik aplikasi yang terus bertambah fiturnya dan sistem yang dituntut selalu cepat beradaptasi, ada satu risiko teknis yang sering luput dari perhatian: technical debt. Biasanya lahir dari keputusan-keputusan cepat demi mengejar deadline dan kebutuhan bisnis jangka pendek. 

Awalnya terasa membantu, tapi seiring waktu justru membuat pengembangan melambat, biaya meningkat, dan perubahan kecil jadi makin rumit, mirip utang finansial yang terus berbunga.

Artikel ini akan membahas apa sebenarnya yang dimaksud dengan technical debt, cara mengenalinya sejak dini, hingga strategi praktis untuk menguranginya, bahkan sampai 50%, tanpa mengorbankan kecepatan inovasi.

Apa itu technical debt?

mekari officeless ilustrasi technical debt
Sumber: @vincentdnl (Vincent Deniel)

Tech debt adalah biaya di masa depan akibat penggunaan jalan pintas dalam pengembangan software. Istilah ini diperkenalkan oleh Ward Cunningham untuk menggambarkan kompromi antara kecepatan delivery dan kualitas kode. 

Sama seperti utang finansial, tech debt harus “dibayar” nanti, dalam bentuk refactoring, bug fixing, atau biaya maintenance yang lebih tinggi.

Dalam praktiknya, technical debt muncul saat tim memilih solusi cepat (misalnya hardcode, skip testing, atau desain seadanya) demi mengejar deadline atau meluncurkan produk lebih awal. 

Keputusan ini tidak selalu salah, apalagi kalau tujuannya mempercepat time-to-market dan validasi produk. Tapi perlu disadari:

  • Technical debt akan menghambat pengembangan jangka panjang
  • Bisa membuat sistem makin sulit dimodifikasi
  • Membutuhkan pelunasan bertahap lewat perbaikan kode

Technical debt yang dibiarkan akan membuat pengembangan makin sulit dan mahal. Karena itu, penting bagi tim untuk membuat utang ini transparan, mengomunikasikannya ke stakeholder non-teknis, dan menyusun strategi pelunasan yang realistis. Tidak harus lunas langsung, tapi konsisten dikurangi.

Penyebab technical debt yang paling sering terjadi

Tech debt sering terbentuk tanpa disadari, bukan karena satu keputusan besar, tapi akumulasi dari berbagai keputusan kecil karena tekanan operasional dan dinamika bisnis yang cepat. Beberapa penyebab yang paling umum antara lain:

  • Deadline yang terlalu ketat: Tekanan untuk cepat rilis sering membuat tim memilih solusi sementara. Masalahnya, quick fix ini jarang dibersihkan kembali dan akhirnya menumpuk jadi beban teknis.
  • Testing yang dikorbankan: Melewati atau meminimalkan testing memang menghemat waktu di awal, tapi bug yang lolos justru menciptakan pekerjaan berulang dan memperlambat development ke depannya.
  • Komunikasi yang tidak sinkron: Requirement yang tidak jelas, perubahan scope mendadak, atau asumsi yang tidak pernah divalidasi membuat developer membangun solusi yang tidak sepenuhnya sesuai kebutuhan.
  • Kesenjangan skill atau pengalaman: Saat tim bekerja dengan teknologi yang belum dikuasai penuh, solusi yang diambil sering kali belum optimal, tapi perlu banyak perbaikan setelah pemahaman teknis meningkat.
  • Arah produk yang terus berevolusi: Kode yang relevan hari ini bisa jadi tidak selaras dengan strategi produk ke depan. Tanpa penyesuaian, kode tersebut berubah fungsi menjadi technical debt.

Jenis-jenis tech debt dan yang tidak termasuk tech debt

Dengan klasifikasi yang jelas, perusahaan bisa mengelola setiap jenis debt secara proporsional. Bukannya menyamaratakan semua masalah sebagai tech debt. 

1. Jenis-jenis technical debt

Tech debt adalah masalah teknis yang secara progresif memperlambat development. Dalam praktiknya, ia bisa muncul di berbagai lapisan pengembangan produk.

Berdasarkan komponen dalam proses development:

  • Arsitektur yang tidak scalable: Desain sistem yang terlalu monolitik, tightly coupled, atau tidak modular sehingga setiap perubahan kecil berdampak luas dan berisiko.
  • Struktur kode yang tidak konsisten: Penamaan, pola, dan konvensi coding yang berbeda-beda antar modul atau tim, membuat kode sulit dipahami dan sulit dipelihara.
  • Duplikasi logic: Logika bisnis yang di-copy ke banyak tempat alih-alih direfaktor menjadi reusable components, sehingga perubahan harus dilakukan berulang kali.
  • Kompleksitas kode yang berlebihan: Conditional berlapis, dependensi yang saling terkait, atau alur eksekusi yang sulit diikuti, meningkatkan risiko error saat perubahan dilakukan.
  • Test coverage rendah atau tidak relevan: Minimnya unit test, integration test, atau test yang tidak mencerminkan skenario nyata, membuat refactoring menjadi mahal dan berisiko.
  • Dokumentasi teknis yang minim atau usang: Kurangnya dokumentasi arsitektur, API, atau keputusan teknis membuat onboarding lambat dan knowledge terjebak pada individu tertentu.
  • Code smells yang dibiarkan: Pola-pola kode yang berfungsi tapi tidak sehat, seperti method terlalu panjang, class dengan tanggung jawab berlebihan, atau dependency yang tidak perlu.

Berdasarkan kondisi terjadinya technical debt:

  • Deliberate debt: Shortcut yang diambil secara sadar untuk mengejar kecepatan delivery. Biasanya dilakukan dengan pertimbangan bisnis yang jelas, namun tetap menyisakan pekerjaan yang harus diselesaikan di kemudian hari.
  • Accidental debt: Utang teknis yang muncul tanpa disengaja, akibat miskomunikasi, kesalahan asumsi, atau keterbatasan pengalaman teknis.
  • Bit rot: Kode yang awalnya sehat tapi memburuk seiring waktu karena perubahan dependency, penambahan fitur, atau evolusi sistem yang tidak diimbangi dengan perawatan teknis.

Hal-hal yang tidak termasuk tech debt

Penting untuk membedakan technical debt dari jenis “debt” lainnya agar solusi yang diambil tepat sasaran:

  • Feature debt: Terjadi ketika fitur ditunda, dipotong, atau perlu dirombak ulang. Contohnya fitur yang harus diulang total karena respons market tidak sesuai ekspektasi awal.
  • User experience debt: Muncul saat UI/UX gagal mendukung alur penggunaan atau tujuan bisnis. Secara teknis mungkin “berfungsi”, tetapi secara pengalaman tidak efektif.
  • Quality debt: Bug, error, atau crash yang muncul akibat cacat kode dan minimnya pengujian.
  • Process debt: Proses kerja yang tidak efektif, tidak konsisten, atau tidak terdefinisi dengan jelas. 
Baca Juga: Cara Mempercepat Agile Software Development dengan Low Code

Cara mengurangi technical debt

Technical debt tidak bisa dibereskan dengan satu inisiatif besar. Pendekatan yang efektif justru datang dari kebiasaan teknis yang konsisten di level tim maupun manajemen.

1. Prioritaskan dan lakukan triage technical debt

Tidak semua technical debt punya tingkat urgensi yang sama. Beberapa bisa ditunda, sementara yang lain berpotensi mengganggu stabilitas sistem jika dibiarkan. 

Biasanya terlihat dari area kode yang sering disentuh, sering bermasalah, atau paling banyak menyedot waktu tim. Dengan prioritas yang jelas, effort perbaikan bisa diarahkan ke area yang benar-benar berisiko bagi sistem dan bisnis.

2. Lakukan refactoring sambil berjalan

Setiap kali kode disentuh untuk penambahan fitur atau perbaikan bug, itu adalah momen terbaik untuk merapikannya.

Perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus akan mencegah penumpukan masalah teknis yang lebih besar di kemudian hari.

3. Alokasikan waktu khusus dalam sprint

ilustrasi time allocation untuk sprint
Sumber: Age of Product

Technical debt perlu masuk ke perencanaan, bukan sekadar catatan backlog. 

Dengan menyisihkan sebagian kapasitas sprint atau workflow secara rutin, tim bisa mengurangi debt secara bertahap tanpa mengorbankan delivery produk.

4. Kurangi pekerjaan manual lewat automasi

Automasi membantu tim mendeteksi masalah lebih awal dan menjaga kualitas secara konsisten. Tool untuk testing, code analysis, dan deployment mempercepat feedback sekaligus menekan risiko debt baru masuk ke production tanpa disadari.

5. Bangun kesadaran teknis di seluruh tim

Technical debt bukan tanggung jawab individu atau role tertentu. 

Ketika semua anggota tim memahami dampaknya terhadap kecepatan, stabilitas, dan biaya jangka panjang, keputusan teknis akan lebih disiplin sejak awal. 

6. Jaga teknologi tetap relevan dan terdokumentasi

Dependency yang tertinggal dan dokumentasi yang tidak pernah diperbarui adalah sumber technical debt yang sering diabaikan. 

Update teknologi secara berkala membantu menjaga keamanan dan performa sistem, sementara dokumentasi yang jelas mempermudah maintenance, onboarding, dan pengambilan keputusan teknis.

7. Pertimbangkan adopsi low code no code dengan governance yang tepat

Low-code no-code bisa membantu mengurangi beban technical debt, terutama untuk aplikasi internal dan workflow operasional. 

Pengembangan jadi lebih cepat dan perubahan lebih mudah dilakukan. Namun, tanpa aturan dan governance yang jelas, pendekatan ini justru berisiko menciptakan debt baru di level arsitektur dan kontrol sistem.

Baca Juga: 8 Tools Terbaik Agile Development Software sesuai Use Case

Bagaimana low code no code dapat mengurangi technical debt

Low code no code bukan pengganti engineering, tapi force multiplier. Dengan governance yang tepat, metode ini membantu perusahaan bergerak cepat tanpa harus berutang terlalu banyak di sisi teknis. 

1. Iterative flow yang lebih sehat

Low code no code memungkinkan proses iterasi berjalan cepat tanpa harus merusak fondasi teknis. Tim bisa menghasilkan kode siap produksi dari desain, mengevaluasinya, lalu memperbaiki dan mengulang proses tersebut dengan mudah. 

Karena iterasi tidak lagi mahal dan rumit, tim tidak terdorong mengambil shortcut teknis yang biasanya menjadi sumber technical debt.

2. Demokratisasi pengembangan aplikasi

Dengan low code no code, pengembangan aplikasi tidak lagi eksklusif milik tim engineering. Product, business analyst, dan designer bisa ikut terlibat langsung dalam proses build dan validasi. 

Hasilnya, kebutuhan bisnis lebih akurat sejak awal, miskomunikasi berkurang, dan engineer tidak perlu menambal solusi yang salah arah, salah satu pemicu technical debt yang paling sering terjadi.

3. Workflow tim IT lebih optimal

workflow tim IT

Low code no code membantu tim IT menggunakan resource secara lebih cerdas. Backlog aplikasi internal bisa dikurangi, delivery jadi lebih cepat, dan engineer bisa fokus pada arsitektur, integrasi, serta pengamanan sistem. 

Dengan beban kerja yang lebih seimbang, kualitas teknis lebih terjaga dan risiko debt baru bisa ditekan.

4. Rapid Application Development (RAD) tanpa shortcut teknis

Low code no code mendukung RAD dengan menyediakan komponen siap pakai dan automasi pembuatan kode produksi. 

Tim bisa membangun aplikasi jauh lebih cepat dibanding hand-coding, tanpa perlu mengorbankan struktur dan maintainability. Kecepatan tercapai, tapi technical debt tidak ikut menumpuk.

Baca Juga: Panduan Metode RAD: Tahapan & Solusinya dengan Low Code

Solusi optimasi technical debt dengan app builder low code no code

Low code no code membantu perusahaan mengurangi technical debt dengan membuat pengembangan aplikasi lebih terstandar dan berkelanjutan, tanpa bergantung pada shortcut teknis.

Dari sisi dampak bisnis, pendekatan ini sudah terbukti secara data:

  • Pengurangan biaya hingga 70% dibanding metode pengembangan tradisional, berdasarkan studi Mendix
  • Percepatan waktu pengembangan 50%–90%, menurut 451 Research, sekaligus mengurangi ketergantungan pada talenta IT yang terbatas

Secara teknis, app builder low-code / no-code berkontribusi dalam:

  • Mengurangi kompleksitas dan custom code berlebih
  • Menjaga konsistensi arsitektur dan praktik pengembangan
  • Mempermudah iterasi tanpa menciptakan debt baru
  • Menekan biaya maintenance jangka panjang

Untuk implementasi yang lebih terkontrol, Mekari Officeless dapat menjadi solusi yang relevan. 

Mekari Officeless adalah platform app builder low code no code yang mendemokratisasi pembuatan aplikasi bisnis, otomasi workflow, dan analytics, memungkinkan perusahaan membangun solusi inovatif yang scalable dan mendukung pertumbuhan yang terukur.

Dengan Mekari Officeless, perusahaan dapat:

  • Mengurangi backlog dan beban tim IT
  • Mempercepat delivery aplikasi internal
  • Mengelola technical debt sejak tahap desain dan pengembangan

Yuk, pelajari lebih lanjut solusi dari Mekari Officeless.

Referensi

Atlassian. ”Say ‘bye’ to tech debt: Agile solutions for clean development”
vFunction. ”How to Reduce Technical Debt: Key Strategies”

Topik:
Banner by Mekari
Keluar

WhatsApp WhatsApp kami