5 min read

Business Resilience: Framework untuk Hadapi Disrupsi Bisnis

Business Resilience

Mekari Insight

  • Business resilience merupakan kemampuan perusahaan untuk tetap tumbuh dan berkembang selama menghadapi tekanan dan disrupsi yang terus berubah.
  • Technology resilience menjadi pilar utama ketahanan bisnis dalam menentukan kecepatan respons, stabilitas operasional dan kemampuan perusahaan beradaptasi.
  • Mekari Officeless merupakan solusi custom software development untuk membantu perusahaan membangun technology resilience dan sistem yang selaras dengan kebutuhan bisnis.

Disrupsi bisnis kini menjadi persoalan yang harus hadapi setiap perusahaan. Pandemi global, adopsi AI, serangan siber, hingga bencana alam membuat bisnis terus bergerak jauh lebih cepat. Agar bisnis terus tumbuh dan berkembang, perusahaan tidak dapat mengadopsi rencana jangka pendek. 

Business resilience hadir membuat perusahaan untuk tetap berdiri dan beradaptasi pada setiap perubahan. Dengan strategi dan framework jangka panjang, perusahaan dapat terus berdiri dan berkembang dalam menghadapi tekanan.

Business resilience adalah kemampuan perusahaan untuk tetap bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan. Dengan strategi dan framework jangka panjang, perusahaan dapat menghadapi tekanan dan terus berkembang.

Apa itu business resilience?

Business Resilience

Definisi business resilience yang paling banyak dijadikan rujukan berasal dari ISO 22316, yang dideskripsikan sebagai kemampuan perusahaan dalam menyerap dampak dan beradaptasi dengan lingkungan yang terus mengalami perubahan sekaligus menjaga keberlangsungan dan pertumbuhan jangka panjang. 

Dari perspektif lain, business resilience juga dipahami sebagai kemampuan perusahaan untuk menyerap tekanan, memulihkan fungsi bisnis, dan tetap berkembang dalam kondisi yang terus berubah. Apabila diadopsi dengan benar, ketika terjadi guncangan eksternal, perusahaan dapat pulih lebih cepat dengan cakupan pemulihan yang lebih luas daripada kompetitor.

Fokus business resilience seringkali tertuju pada IT atau technology resilience. Pendekatan ini memastikan bahwa kesediaan aplikasi dan data tetap tersedia dan aman digunakan saat terjadi gangguan seperti kegagalan sistem atau serangan siber. 

Namun, realitas bisnis modern ini saat ini menunjukkan bahwa ketahanan bisnis tidak bisa berhenti pada lapisan teknologi saja. Perusahaan wajib menghadapi respons dengan cepat terhadap perubahan yang terus menerus terjadi. Disrupsi global yang berlangsung sangat cepat telah mengubah cara perusahaan dalam beroperasi, pola karyawan bekerja, dan bahkan model bisnis itu sendiri. Oleh karena itu, kini business resilience mencakup beberapa dimensi lain, seperti: 

  • Ketahanan finansial memastikan perusahaan mampu menghadapi tekanan ekonomi seperti resesi melalui pengelolaan keuangan dan pengendalian biaya.
  • Ketahanan operasional berfokus menjaga fungsi utama bisnis tetap berjalan melalui perencanaan dan manajemen risiko yang matang meskipun terdapat gangguan eksternal.
  • Sementara ketahanan reputasi menitikberatkan kemampuan perusahaan untuk menjaga dan memulihkan citra perusahaan melalui praktik etis dan komunikasi yang proaktif.
Baca Juga: Risk Appetite: Cara Susun Framework Batas Risiko Perusahaan

Business resilience framework

Setiap perusahaan memiliki tantangan ketahanan yang berbeda tergantung dengan industri dan wilayah perusahaan, sehingga tidak ada pendekatan yang cocok untuk menghadapi semua tantangan. Namun, business resilience framework dapat dibangun secara umum melalui pola pikir yang strategis dan dinamis. 

Dalam praktiknya, business resilience dibangun melalui beberapa tahapan utama, mulai dari peningkatan visibilitas risiko, penyesuaian operasional, optimasi response, hingga transformasi jangka panjang.

Business Resilience Framework

Risk visibility merupakan tahapan awal, di mana perusahaan menggunakan data dan teknologi untuk mengamati tren, mengidentifikasi risiko, dan mengevaluasi dampak gangguan terhadap bisnis. 

Kini, tech resilience menjadi pondasi perusahaan karena AI, data analytics, dan otomasi dapat melakukan deteksi, perencanaan skenario, dan membuat keputusan bisnis lebih cepat dan tepat.

Kemudian, pada tahap operasional adaption, resilience mulai dibangun dengan menyesuaikan strategi berdasarkan dinamika pasar dan proyeksi berbasis data. Penyesuaian dilakukan melalui financial resilience, seperti pengendalian biaya, serta operasional melalui ketahanan supply chain dan inovasi teknologi operasional. 

Di saat yang sama, strategi organisasi juga diperkuat dengan fleksibilitas alokasi sumber daya, sementara fungsi marketing, sales, dan pricing disesuaikan melalui pengukuran lanjutan terhadap perubahan pasar. 

Setelah dilakukan pengukuran, sustainability resilience mulai diintegrasikan untuk menciptakan nilai dan mengurangi risiko jangka panjang.

Selanjutnya, pada tahap response optimization, perusahaan mulai bergerak untuk melakukan penyesuaian yang lebih agresif. Fokus utamanya adalah untuk mempercepat transisi dari analisis ke eksekusi, sehingga tekanan pasar dapat diubah menjadi peluang untuk tumbuh. 

Pada fase ini, transaction resilience memiliki peran untuk mengakuisisi dan mengintegrasi bisnis untuk menciptakan nilai baru. Sementara, business model innovation mendorong pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik. 

Resilient transformation merupakan tahap terakhir, di mana perusahaan memastikan ketahanan bisnis dibangun secara sistematis dan berkelanjutan sehingga dapat menjadi kekuatan jangka panjang dan bukan hanya respon reaktif. 

Melalui pendekatan transforming for resilience, perusahaan dapat memperkuat budaya perusahaan dan memastikan strategi transformasi dijalankan hingga menghasilkan dampak yang berkelanjutan. 

Framework tersebut bukan hanya berguna membangun ketahanan, namun juga membantu perusahaan agar tidak terjebak pada respon jangka pendek. 

Baca Juga: RegTech: Teknologi Anti-Fraud & Compliance Otomatis

5 Prinsip technology resilience dalam bisnis

Technology resilience memegang peranan penting agar perusahaan dapat lebih cepat beradaptasi. 

Studi ketahanan Boston Consulting Group (BCG), menunjukkan bahwa sebesar 90% perusahaan tidak memiliki cukup ketahanan dan masih bersifat reaktif pada saat gangguan terjadi. 

Alih-alih beradaptasi, perusahaan hanya merespon seperlunya dan berharap situasi dapat membaik dengan sendirinya. 

Peranan teknologi cukup penting terutama dalam meningkatkan kemampuan adaptasi perusahaan, mengurangi biaya otomatisasi, serta pondasi dalam pemanfaat data dan AI. karena itu, technology resilience perlu dibangun secara sistematis melalui lima prinsip utama, yaitu:

1. Fleksibilitas dan skalabilitas sistem: Sistem, aplikasi, platform dan tim IT perlu dirancang lebih fleksibel agar mudah ditingkatkan atau diturunkan kapasitasnya. Perusahaan dapat menyesuaikan layanan sesuai kebutuhan bisnis yang terus berubah. Dengan begitu, ketika permintaan tiba-tiba naik atau turun, operasional tetap berjalan stabil tanpa adanya gangguan. 

2. Visibilitas menyeluruh: Perusahaan perlu memantau data, aplikasi dan infrastruktur jaringan secara berkala. Dengan pemantauan yang rutin, risiko gangguan dapat mudah terdeteksi dan teratasi dengan cepat sebelum berdampak luas. 

3. Agility data: Kumpulan data dan aplikasi sebaiknya tidak bergantung pada satu platform, tetapi didukung oleh beberapa platform untuk memudahkan perpindahan transfer data. Dengan begitu, ketika terjadi kendala, perusahaan dapat melakukan migrasi lebih cepat sehingga operasional tetap berjalan. 

4. Arsitektur yang kuat: Ketika membangun sistem, perusahaan perlu mengasumsikan bahwa gangguan dapat terjadi kapan saja. Oleh karena itu, sebaiknya arsitektur aplikasi dan platform perlu dirancang kuat agar operasional tetap berjalan saat terjadi masalah, sekaligus mampu menghasilkan insight untuk perbaikan di masa depan.

5. Kemampuan integrasi: Sistem internal dan software eksternal harus saling terhubung dengan API yang terstandarisasi. Integrasi yang terstruktur, membantu pertukaran data antar sistem jadi lebih cepat dan fleksibel.

Baca Juga: Sustainability Report: Framework, Contoh, Cara Penyusunan

Kembangkan technology resilience bersama Mekari Officeless

Business resilience bukan hanya dibangun dengan strategi dan framework dasar, namun dengan diperlukan pendekatan yang terintegrasi dan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Dengan pondasi sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat memperkuat ketahanan operasional sekaligus meningkatkan kemampuan adaptasi dalam jangka panjang.

Mekari Officeless sebagai solusi custom software development dapat membantu perusahaan di Indonesia untuk mengembangkan berbagai sistem dan platform sesuai dengan kebutuhan bisnis. Mulai dari analisis ancaman, deteksi anomali, monitoring dan kontrol kepatuhan, sehingga mitigasi risiko bencana dapat dilakukan sedari dini.

Konsultasikan kebutuhan sistem ketahanan bisnis Anda dan bangun pondasi teknologi yang tanggung bersama Mekari Officeless!

Topik:
Banner by Mekari
Keluar

WhatsApp WhatsApp kami