3 min read

Mengenal Apa itu Inventory Turnover, Dampak, serta Cara Perhitungan

inventory turnover

Mekari Insight

  • Inventory turnover adalah indikator penting untuk mengukur efektivitas pengelolaan stok dan strategi penjualan bisnis.
  • Rasio perputaran stok yang tinggi membantu mempercepat perputaran modal dan menekan biaya penyimpanan.
  • Inventory turnover yang rendah berisiko menghambat arus kas, meningkatkan biaya gudang, dan menurunkan kualitas produk.
  • Perhitungan inventory turnover dilakukan dengan membandingkan HPP terhadap rata-rata persediaan dalam periode tertentu.

Pengelolaan persediaan menjadi salah satu tantangan utama dalam operasional bisnis, terutama bagi sektor ritel, distribusi, dan manufaktur.

Stok yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penumpukan barang, keterlambatan pengiriman, hingga terganggunya arus kas.

Di sisi lain, ketersediaan barang yang terlalu sedikit juga berisiko menghambat penjualan dan menurunkan kepuasan pelanggan.

Oleh karena itu, bisnis perlu memiliki indikator yang dapat membantu menyeimbangkan jumlah persediaan dengan permintaan pasar.

Salah satu indikator yang umum digunakan untuk menilai efektivitas pengelolaan stok adalah inventory turnover.

Melalui rasio ini, bisnis dapat memahami seberapa cepat persediaan berputar dan sejauh mana strategi pengelolaan inventory telah berjalan secara optimal.

Apa itu Inventory Turnover

Inventory turnover adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa sering persediaan barang terjual dan digantikan dalam periode tertentu, baik bulanan maupun tahunan.

Rasio ini membantu bisnis memahami seberapa efektif pengelolaan stok dan strategi penjualan yang dijalankan.

Inventory turnover yang tinggi menunjukkan produk dapat terjual dengan cepat sehingga modal tidak terlalu lama tertahan dalam bentuk persediaan.

Sebaliknya, rasio yang rendah dapat mengindikasikan penumpukan stok, permintaan pasar yang lemah, atau perencanaan persediaan yang kurang optimal.

Bagi bisnis ritel, distribusi, hingga manufaktur, inventory turnover menjadi indikator penting untuk menilai efisiensi operasional serta menjaga kesehatan arus kas.

Baca Juga: Mengenal Apa Itu Sistem Inventory, Fungsi, dan Manfaatnya

Mengapa Inventory Turnover Perlu Ditingkatkan

Menunjukkan efisiensi pengelolaan persediaan

Inventory turnover yang sehat mencerminkan kemampuan bisnis dalam mengelola stok secara efisien.

Barang dapat terjual lebih cepat dan perputaran modal berjalan lancar. Dukungan sistem inventory berbasis data membantu pencatatan stok lebih akurat dan mempermudah pengambilan keputusan pengadaan.

Menghemat biaya penyimpanan

Stok yang tersimpan terlalu lama akan meningkatkan biaya gudang, perawatan barang, dan tenaga kerja.

Dengan perputaran stok yang lebih cepat, bisnis dapat menekan biaya penyimpanan dan memaksimalkan pemanfaatan ruang gudang.

Menjaga keseimbangan persediaan

Inventory turnover yang stabil membantu bisnis menghindari risiko overstock maupun understock.

Melalui perencanaan dan forecasting berbasis data penjualan, kebutuhan stok dapat disesuaikan dengan permintaan pasar secara lebih akurat.

Mendukung stabilitas keuangan

Perputaran persediaan berpengaruh langsung terhadap arus kas. Semakin cepat barang terjual, semakin cepat dana kembali dan dapat digunakan untuk kebutuhan operasional lainnya.

Dampak Inventory Turnover yang Menurun

1. Menghambat Masuknya Produk Baru

Inventory turnover yang rendah menyebabkan stok lama menumpuk di gudang. Kondisi ini membatasi ruang penyimpanan untuk produk baru yang berpotensi lebih relevan dengan kebutuhan pasar.

Akibatnya, bisnis berisiko kehilangan peluang penjualan karena tidak mampu merespons tren dan permintaan pelanggan secara cepat.

2. Modal Tertahan dan Arus Kas Melambat

Persediaan yang tidak bergerak membuat modal tertahan dalam bentuk stok. Hal ini memperlambat arus kas masuk dan mengurangi fleksibilitas bisnis dalam memenuhi kebutuhan operasional, seperti pembelian bahan baku, pembayaran pemasok, atau pengembangan produk. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berdampak pada penurunan laba.

3. Biaya Penyimpanan Gudang Semakin Tinggi

Semakin lama barang disimpan, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk penyimpanan. Biaya tersebut mencakup sewa gudang, perawatan barang, pengelolaan stok, hingga tenaga kerja.

Inventory turnover yang rendah membuat biaya ini terus bertambah tanpa diimbangi perputaran penjualan yang sepadan.

4. Meningkatkan Risiko Kerusakan dan Penurunan Kualitas Produk

Persediaan yang terlalu lama berada di gudang berisiko mengalami kerusakan atau penurunan kualitas. Untuk produk non-makanan, risiko dapat berupa kerusakan fisik atau penurunan tampilan.

Sementara untuk produk makanan dan minuman, risiko meliputi perubahan rasa, tekstur, hingga mendekati masa kedaluwarsa.

5. Menurunkan Daya Tarik dan Keputusan Pembelian Konsumen

Produk yang tersimpan terlalu lama cenderung kehilangan daya tarik di mata konsumen. Kualitas yang menurun atau tampilan yang kurang optimal dapat memengaruhi keputusan pembelian.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan kepercayaan pelanggan terhadap brand.

Baca Juga: 10 Aplikasi Stok Barang Berbasis Web untuk Kelola Inventory

Cara Menghitung Inventory Turnover

Rumus inventory turnover adalah sebagai berikut:

Inventory Turnover = HPP / Rata-rata Persediaan

Rata-rata persediaan dihitung dari persediaan awal dan persediaan akhir dalam satu periode.

Rata-rata Persediaan = (Persediaan Awal + Persediaan Akhir) / 2

Sebagai contoh, sebuah toko pakaian memiliki HPP sebesar Rp150.000.000, persediaan awal Rp200.000.000, dan persediaan akhir Rp250.000.000.

Rata-rata persediaan adalah Rp225.000.000 sehingga inventory turnover-nya sebesar 0,67 kali. Angka ini menunjukkan perputaran stok yang relatif lambat.

Menjaga Inventory Turnover dengan Sistem Omnichannel

Inventory turnover yang stabil membutuhkan pengelolaan persediaan yang terintegrasi dan berbasis data.

Melalui software inventory omnichannel Mekari Desty, bisnis dapat memantau stok secara real-time, mengelola persediaan lintas kanal penjualan, serta mengurangi risiko kelebihan dan kekurangan stok.

Pengelolaan inventory yang lebih terstruktur membantu bisnis menjaga arus kas, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendukung pertumbuhan secara berkelanjutan.

Keluar

WhatsApp WhatsApp kami