8 min read

Cara Mengelola Account Payable dengan Framework & Strategi

mekari expense account payable framework featured image

Mekari Insight

  • Framework account payable membantu mengubah proses AP menjadi sistem yang lebih terkontrol. Dengan prosedur yang jelas, perusahaan dapat mengurangi keterlambatan pembayaran, duplikasi invoice, serta risiko fraud dan human error.
  • AP yang efektif membutuhkan kombinasi proses, kontrol internal, dan praktik terbaik yang konsisten. Mulai dari pemahaman AP cycle, penerapan internal controls, hingga automasi dan manajemen vendor, semuanya berperan menjaga cash flow, akurasi data, dan hubungan dengan vendor.
  • Sebagai Spend Management System dengan modul Account Payable Automation, Mekari Expense membantu perusahaan mengotomasi workflow AP, memperkuat kontrol internal, dan mendapatkan visibilitas real-time atas pengeluaran bisnis, dalam satu platform terintegrasi.

Tim keuangan yang mengelola utang usaha sering kali tidak menyadari berapa besar biaya tersembunyi yang ditanggung setiap harinya, bukan dari nilai pembayaran itu sendiri, melainkan dari cara prosesnya dijalankan. 

Berdasarkan laporan APQC, perusahaan dengan performa terendah menghabiskan lebih dari $10 untuk memproses satu invoice, sementara perusahaan terbaik di kelasnya hanya mengeluarkan $2,07 atau kurang untuk pekerjaan yang sama. 

Account payable framework yang terstruktur adalah langkah pertama untuk menutup kesenjangan itu, sekaligus menjadikan AP sebagai aset strategis bagi bisnis. Kerangka ini mencakup standarisasi alur kerja, penetapan kontrol internal, hingga integrasi teknologi yang memungkinkan tim keuangan bergerak lebih cepat dengan risiko yang lebih kecil. 

Artikel ini akan menguraikan komponen framework AP yang terbukti efektif, lengkap dengan best practices serta KPI dan cara mengukur yang relevan untuk konteks bisnis  di Indonesia.

Apa itu account payable framework

Account payable framework adalah sistem yang berisi prosedur dan kontrol standar untuk mengelola seluruh siklus pembayaran kepada vendor, mulai dari penerimaan invoice, proses verifikasi, hingga pembayaran dan pencatatan akuntansi.

Tujuan utama dari framework ini adalah memastikan bahwa setiap transaksi pembayaran dilakukan dengan benar, tepat waktu, dan sesuai kebijakan perusahaan. 

Dengan framework yang terstruktur, perusahaan bisa menghindari berbagai risiko dalam pengelolaan utang usaha.

Tanpa framework yang kuat, perusahaan berisiko mengalami:

  • Masalah arus kas akibat pengeluaran yang tidak terencana
  • Hubungan yang memburuk dengan vendor karena keterlambatan pembayaran
  • Potensi kerugian finansial akibat fraud dan human error
Baca Juga: Panduan Account Payable: Pengertian, Contoh, Fungsi, Proses

Pentingnya framework account payable untuk bisnis

Framework AP yang terstandarisasi membawa banyak manfaat nyata bagi perusahaan. Berikut beberapa alasan mengapa setiap bisnis perlu menerapkannya:

  • Optimasi cash flow: Timing pembayaran yang tepat membantu memaksimalkan working capital
  • Menjaga hubungan vendor yang baik: Pembayaran tepat waktu membangun kepercayaan dan membuka peluang diskon atau syarat pembayaran yang lebih menguntungkan
  • Mencegah fraud dan error: Framework yang kuat mengurangi risiko pembayaran ganda, invoice palsu, dan fraud internal maupun eksternal
  • Compliance dan kesiapan untuk audit: Dokumentasi yang rapi memudahkan proses audit dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi
  • Penghematan biaya: Proses yang efisien menekan biaya pemrosesan invoice (rata-rata industri $9.40 vs best-in-class $2.78 per invoice)
  • Visibilitas dan kontrol: Memberikan insight real-time atas kewajiban pembayaran dan membantu perencanaan keuangan yang lebih akurat

Siklus & proses account payable (AP cycle)

Siklus account payable (AP cycle) adalah bagian dari proses procure-to-pay (P2P) yang mencakup semua tahapan pembayaran kepada vendor, mulai dari permintaan pembelian hingga pencatatan transaksi. 

Berikut adalah tahapan utama dalam siklus AP secara end-to-end:

  1. Purchase request & PO creation: Proses dimulai saat kebutuhan pembelian diidentifikasi. Setelah itu, dibuat purchase order (PO) yang telah disetujui oleh pihak terkait di internal perusahaan.
  2. Receipt of goods/services: Barang atau jasa yang dipesan diterima oleh tim operasional, lalu didokumentasikan dalam receiving document sebagai bukti penerimaan fisik.
  3. Invoice receipt: Vendor mengirimkan invoice sebagai tagihan atas barang atau jasa yang sudah dikirim. Invoice ini bisa diterima melalui email, pos, atau platform elektronik.
  4. Invoice validation: Tim keuangan memverifikasi akurasi isi invoice, kelengkapan data, serta kesesuaian dengan kesepakatan atau kontrak yang berlaku.
  5. Three-way matching: Dilakukan pencocokan antara PO, receiving document, dan invoice untuk memastikan ketiganya konsisten dan tidak ada perbedaan nilai atau kuantitas.
  6. Invoice approval: Setelah lolos tahap verifikasi, invoice dikirim ke pihak yang berwenang untuk disetujui berdasarkan alur persetujuan (approval workflow) yang telah ditentukan.
  7. Payment processing: Pembayaran dilakukan setelah mendapat persetujuan, menggunakan metode yang telah disepakati seperti transfer bank, cek, atau kartu pembayaran bisnis.
  8. Record keeping & rekonsiliasi: Semua transaksi dicatat dalam sistem akuntansi (general ledger), dan dilakukan rekonsiliasi rutin untuk memastikan seluruh pembayaran sudah terekam dengan akurat.
Baca Juga: Account Payable (AP) Turnover: Rumus, Cara Hitung, dan Contoh

Internal controls sebagai framework account payable

Internal control dalam proses account payable adalah sistem pengamanan internal yang memastikan transaksi pembayaran berjalan akurat, aman, dan sesuai kebijakan. 

Kontrol ini menciptakan titik-titik verifikasi di seluruh tahapan, mulai dari penerimaan invoice hingga pelunasan pembayaran, untuk mencegah fraud, duplikasi, atau kesalahan pencatatan.

Setiap perusahaan, baik kecil maupun besar, membutuhkan kontrol AP yang memadai. Bisnis kecil membutuhkannya untuk menutupi keterbatasan staf, perusahaan menengah mengandalkannya untuk akurasi saat volume transaksi meningkat, dan korporasi besar menjadikannya dasar untuk memenuhi standar audit dan kepatuhan.

Tiga kategori utama dalam kontrol internal AP meliputi:

  • Obligation to pay controls, seperti sistem approval PO, verifikasi vendor, dan three-way matching antara PO, invoice, dan bukti penerimaan barang.
  • Data entry controls, mencakup pemisahan tugas, otorisasi ganda untuk pembayaran besar, serta penggunaan sistem otomatis untuk validasi dan pengamanan data.
  • Payment controls, yaitu alur persetujuan pembayaran berbasis nilai transaksi, audit rutin atas data vendor, dan sistem deteksi pembayaran ganda.

Segregation of duties dalam accounts payable framework

Segregation of duties adalah prinsip kontrol internal yang memastikan tidak ada satu individu yang memiliki kendali penuh atas seluruh siklus AP. 

Tanpa pemisahan peran yang jelas, satu orang berpotensi membuat, menyetujui, sekaligus membayar tagihan — celah yang berisiko tinggi untuk fraud maupun kesalahan yang tidak terdeteksi.

Dalam praktiknya, tiga peran utama yang perlu dipisahkan adalah:

  • Invoice approver: memverifikasi kesesuaian invoice dengan PO dan bukti penerimaan barang, lalu memberikan persetujuan sebelum invoice masuk ke antrean pembayaran.
  • Payment executor: memproses dan mengeksekusi pembayaran berdasarkan invoice yang sudah disetujui, terpisah dari pihak yang melakukan approval.
  • Reconciliation officer: memverifikasi kesesuaian seluruh pembayaran di sistem dengan mutasi rekening bank dan laporan vendor, dijalankan oleh pihak yang tidak terlibat dalam dua proses sebelumnya.

Untuk perusahaan dengan tim keuangan kecil, solusi praktisnya adalah dual-control payment, yaitu setiap pembayaran di atas nilai tertentu memerlukan persetujuan dari dua orang berbeda, sehingga prinsip ini tetap terjaga meski sumber daya terbatas.

Best practices & cara pengelolaan account payable

Ada beberapa best practices yang bisa dijadikan acuan untuk mengelola account payable secara optimal. 

1. Automasi proses AP 

Teknologi seperti OCR memungkinkan data dari invoice diproses otomatis tanpa input manual, mengurangi risiko human error. Selain itu, invoice bisa langsung diarahkan ke jalur persetujuan yang sesuai (automated workflow), sementara proses matching dan validasi bisa dijalankan secara otomatis. 

Pembayaran pun lebih aman dan cepat jika dilakukan secara elektronik, mengurangi ketergantungan pada cek fisik atau proses manual lainnya.

2. Standarisasi workflow 

Tahap ini membantu memastikan semua pihak menjalankan proses dengan cara yang sama. Setiap langkah, mulai dari penerimaan invoice hingga pelunasan pembayaran, perlu didokumentasikan dengan jelas. 

Tugas dan tanggung jawab tiap pihak harus ditentukan sejak awal agar tidak terjadi tumpang tindih. Penjadwalan pembayaran dan persetujuan yang konsisten juga menjaga ritme kerja tim dan mempercepat siklus pengeluaran.

3. Manajemen vendor yang baik 

Mulai dari pengelolaan data vendor yang tersentralisasi. Informasi harus selalu diperbarui dan diverifikasi secara berkala untuk menghindari duplikasi atau data tidak valid.

McKinsey mencatat bahwa 50–80% dari total biaya operasional perusahaan berasal dari pengeluaran kepada pihak eksternal. Angka ini menjadikan manajemen vendor bukan sekadar aktivitas administratif, tapi salah satu lever penghematan biaya yang paling signifikan jika dikelola secara terstruktur.

Selain itu, perusahaan perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan vendor, termasuk melakukan evaluasi performa mereka secara rutin. 

Ini penting untuk menjaga kualitas layanan, meminimalkan kesalahpahaman, dan membuka peluang negosiasi yang lebih menguntungkan.

Baca Juga: Panduan Vendor Management: Proses dan Strategi

4. Optimasi pembayaran 

Perusahaan sebaiknya membayar berdasarkan tanggal jatuh tempo, bukan tanggal invoice, agar dapat mempertahankan dana lebih lama. Namun, jika vendor menawarkan diskon pembayaran awal yang menguntungkan, hal itu bisa dimanfaatkan.

Selain itu, negosiasi ulang terhadap payment terms juga bisa dilakukan untuk mendapatkan fleksibilitas yang lebih sesuai dengan kondisi keuangan perusahaan.

5. Rekonsiliasi dan audit berkala 

Proses rekonsiliasi wajib dilakukan minimal setiap bulan untuk memastikan tidak ada transaksi yang tertinggal atau tercatat ganda. Setiap selisih antara catatan AP dan mutasi rekening bank perlu dideteksi lebih awal, sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Alat yang paling berguna untuk rekonsiliasi dan audit secara berkala ini adalah AP aging report. 

AP aging report adalah laporan yang mengelompokkan utang usaha yang belum dibayar berdasarkan rentang waktu tunggakannya, misalnya 0–30 hari, 31–60 hari, hingga lebih dari 90 hari.

Selain membantu memantau invoice yang mendekati jatuh tempo, laporan ini juga berguna sebagai acuan prioritasi pembayaran saat likuiditas terbatas.

Di luar rekonsiliasi rutin, audit internal berkala membantu mendeteksi penyimpangan yang tidak terlihat dalam pemantauan harian, seperti duplikasi vendor atau pembayaran tanpa dokumen pendukung. 

Dengan evaluasi yang terstruktur, perusahaan dapat terus memperbaiki sistem AP dan mendorong efisiensi jangka panjang.

KPI dan cara mengukur efektivitas accounts payable framework

Membangun framework AP yang terstruktur baru setengah dari pekerjaannya. Bagian yang sering terlewat adalah mengukur apakah framework tersebut benar-benar berjalan efektif.

Tanpa metrik yang jelas, perusahaan tidak bisa membedakan mana proses yang perlu diperbaiki dan mana yang sudah optimal. Ada empat KPI utama yang umumnya digunakan tim keuangan untuk mengevaluasi performa framework dan kinerja AP secara berkala, meliputi:

1. Days Payable Outstanding (DPO)

Days Payable Outstanding (DPO) adalah rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk melunasi kewajiban kepada vendor.  Untuk menghitungnya, Anda dapat menggunakan formula berikut:

Rumus days payable outstanding (DPO)

DPO: (utang usaha ÷ harga pokok penjualan) × jumlah hari dalam periode

DPO yang terlalu rendah menunjukkan perusahaan membayar terlalu cepat dan kehilangan kesempatan untuk mengoptimalkan working capital. Sementara itu, DPO yang terlalu tinggi berisiko merusak hubungan vendor dan memicu denda keterlambatan. 

Selain itu, DPO yang sehat berbeda per industri, sehingga perlu dibandingkan dengan benchmark sektor yang relevan.

2. Account payable turnover

Account payable turnover mengukur seberapa sering perusahaan melunasi total utang usahanya dalam satu periode. Berikut cara menghitungnya:

Rumus AP Turnover

AP Turnover = harga pokok penjualan ÷ rata-rata utang usaha

Rasio account payable turnover yang tinggi menandakan perusahaan melunasi kewajiban dengan cepat, sedangkan rasio yang rendah bisa mengindikasikan masalah likuiditas atau strategi menahan pembayaran yang disengaja.

Perlu dicatat, AP turnover dan DPO pada dasarnya mengukur hal yang sama, hanya saja dari sudut pandang berbeda. 

3. Cost per invoice

Cost per invoice mencerminkan total biaya operasional yang dikeluarkan untuk memproses satu invoice, mulai dari penerimaan dan verifikasi hingga approval dan pembayaran. 

Rumus menghitung cost per invoice

Cost per invoice = total biaya pemrosesan AP ÷ jumlah invoice yang diproses dalam periode

Rata-rata industri berada di angka $9,40 per invoice, sementara perusahaan best-in-class berhasil menekannya hingga $2,78. 

Selisih ini sebagian besar berasal dari tingkat automasi — semakin banyak tahapan yang diotomasi, semakin rendah biaya per invoice-nya.

Oleh karena itu, gunakan teknologi seperti invoice software, platform full ap automation, atau spend management system untuk menekan cost per invoice secara signifikan. 

4. Invoice cycle time

Invoice cycle time adalah total waktu yang berlalu sejak invoice diterima hingga pembayaran dieksekusi. Cara menghitungnya:

Rumus invoice cycle time

Invoice cycle time = total hari pemrosesan invoice ÷ jumlah invoice dalam periode

Siklus yang panjang biasanya mengindikasikan bottleneck di tahap verifikasi atau approval. 

Perusahaan dengan performa AP terbaik beroperasi di kisaran 3,1 hari per invoice, jauh di bawah rata-rata industri yang mencapai 9,2 hari. Semakin pendek siklusnya, maka semakin kecil pula risiko keterlambatan pembayaran yang berujung pada denda atau gesekan dengan vendor.

5. Persentase pembayaran tepat waktu

Metrik ini menggambarkan proporsi invoice yang dilunasi sesuai atau sebelum tanggal jatuh tempo dalam satu periode.

Rumus payment accuracy rate:

Persentase pembayaran tepat waktu = (jumlah invoice dibayar tepat waktu ÷ total invoice jatuh tempo) × 100%

Angka di bawah 90% umumnya menjadi sinyal adanya masalah struktural dalam workflow AP, baik di sisi kapasitas tim, sistem approval, maupun manajemen jadwal pembayaran. Metrik ini juga berguna sebagai indikator awal kesehatan hubungan vendor secara keseluruhan.

Kelima metrik ini idealnya dipantau melalui dashboard AP yang terupdate secara real-time, bukan hanya saat audit tahunan. 

Dengan visibilitas yang konsisten, tim keuangan bisa mendeteksi penyimpangan lebih awal dan mengambil tindakan korektif sebelum berdampak pada cash flow atau hubungan vendor.

Optimalkan framework account payable Anda dengan Mekari Expense

Mengelola account payable secara efektif tidak cukup hanya dengan prosedur manual atau sistem dasar. 

Diperlukan kombinasi antara framework yang terstruktur dan teknologi yang tepat.

Mekari Expense hadir sebagai solusi Spend Management System modern yang dapat bertindak sebagai account payable software mengelola account payable framework Anda secara menyeluruh.

Mekari Expense mampu memudahkan berbagai proses pengelolaan AP di perusahaan Anda, seperti:

  • Mengotomasi end-to-end AP workflow, mulai dari penerimaan invoice hingga eksekusi pembayaran, dengan intervensi manual seminimal mungkin
  • Menyediakan internal controls yang kuat, seperti built-in approval workflows, pemisahan tugas, dan sistem deteksi fraud
  • Memberikan visibilitas real-time, melalui dashboard dan laporan analitik untuk memantau KPI dan arus kas secara menyeluruh
  • Integrasi yang mulus, dengan ekosistem software terpadu Mekari maupun sistem ERP, akuntansi, dan perbankan yang sudah digunakan
  • Solusi yang scalable, yang dapat berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan kompleksitas bisnis And

Dengan fitur yang sesuai dengan poin-poin penting di atas, Mekari Expense membantu perusahaan mengelola utang usaha dengan lebih efisien, sehingga tim keuangan bisa fokus pada hal-hal yang lebih strategis.

Yuk, optimalkan framework AP Anda bersama Mekari Expense.

FAQ

Topik:
Banner by Mekari
Keluar

WhatsApp WhatsApp kami