Mekari Insight
- Bangun produk lebih cepat tanpa buang waktu dan biaya. MVP memungkinkan Anda menguji ide bisnis sejak dini dengan fitur minimum, sehingga risiko kegagalan produk bisa ditekan secara signifikan.
- Validasi langsung dari pengguna nyata. Dengan MVP, Anda bisa mengumpulkan feedback relevan, belajar dari perilaku pengguna, dan melakukan iterasi produk dengan arah yang lebih tepat.
- Low code platform bantu akselerasi MVP Anda. Gunakan Mekari Officeless Studio untuk membuat MVP lebih cepat dan efisien, tanpa perlu tim developer besar. Cocok untuk startup, SME, hingga enterprise yang ingin membangun produk digital dengan keterbatasan resource.
Sebelum Dropbox benar-benar membangun produknya, tim Dropbox hanya membuat sebuah video demo berdurasi tiga menit untuk menunjukkan cara kerja layanan penyimpanan cloud mereka.
Video itu menarik perhatian ribuan orang dan menghasilkan waiting list pengguna yang panjang, semuanya bahkan sebelum satupun baris kode benar-benar dirilis ke publik. Strategi ini dikenal sebagai Minimum Viable Product (MVP): cara cerdas menguji ide tanpa membuang waktu dan biaya.
Dalam artikel ini, kita akan membahas 8 cara mudah membuat MVP untuk membantu Anda memvalidasi ide bisnis dengan cepat, efisien, dan minim risiko.
Apa itu Minimum Viable Product (MVP)
Minimum Viable Product (MVP) adalah versi awal dari sebuah produk yang hanya memiliki fitur inti, cukup untuk memecahkan masalah utama pengguna dan menguji apakah ide tersebut layak dikembangkan lebih lanjut.

Menurut Eric Ries dalam bukunya The Lean Startup, MVP adalah “versi produk dengan fitur minimum yang cukup untuk menguji hipotesis bisnis dengan usaha paling sedikit.”
MVP bukan berarti produk setengah jadi. Justru, ini adalah versi paling sederhana dari produk yang dirancang secara strategis untuk:
- Fokus pada fitur inti yang benar-benar penting bagi pengguna
- Mengurangi waktu dan biaya pengembangan di tahap awal
- Mengumpulkan feedback nyata dari pengguna sesegera mungkin
- Memvalidasi asumsi dan belajar dari respons pasar secara langsung
Tujuan utama dari MVP adalah:
- Validasi ide bisnis dengan cepat dan efisien
- Mengumpulkan feedback pengguna yang bisa dijadikan dasar iterasi
- Meminimalkan risiko dan biaya sebelum produk dikembangkan lebih lanjut
Perbedaan MVP dengan produk final
| Aspek | MVP | Produk Final |
|---|---|---|
| Tujuan | Uji ide, validasi hipotesis, kumpulkan feedback | Menyelesaikan kebutuhan pengguna secara menyeluruh |
| Fitur | Minimum, hanya fitur inti | Lengkap dan disesuaikan dengan permintaan pasar |
| Kecepatan rilis | Cepat | Lebih lama karena proses pengembangan lebih besar |
| Biaya & risiko | Rendah | Lebih tinggi |
Mengapa MVP penting untuk startup dan bisnis
Dengan MVP, Anda bisa menguji apakah produk benar-benar dibutuhkan tanpa harus menghabiskan banyak sumber daya sejak awal.
Berikut beberapa alasan pentingnya MVP:
- Meminimalkan risiko kegagalan produk: MVP membantu Anda memastikan ada pasar untuk produk sebelum investasi besar dilakukan.
- Menghemat biaya dan waktu pengembangan: Anda tidak perlu langsung membangun fitur lengkap, cukup mulai dari yang paling esensial.
- Mendapatkan feedback nyata dari pengguna: Masukan langsung dari pengguna awal sangat berharga untuk pengembangan versi berikutnya.
- Mempercepat time-to-market dan mendapat keunggulan kompetitif: Dengan rilis lebih cepat, Anda bisa belajar lebih awal dan beradaptasi lebih cepat dari kompetitor.
- Memudahkan menarik investor dengan proof of concept: MVP bisa menjadi bukti nyata bahwa ide Anda punya potensi pasar yang jelas.
- Mendukung siklus Build-Measure-Learn untuk pembelajaran berkelanjutan: Prinsip ini membantu tim Anda terus berinovasi berdasarkan data dan insight yang valid.
Langkah-langkah membuat MVP (Minimum Viable Product)
Berikut adalah langkah-langkah praktis untuk membuat MVP yang tepat sasaran.
1. Lakukan riset pasar dan identifikasi masalah
Langkah pertama adalah memahami siapa pengguna Anda dan masalah apa yang mereka hadapi. Untuk itu, lakukan:
- Riset primer seperti survei atau wawancara langsung dengan calon pengguna untuk menggali pain points.
- Riset sekunder seperti analisis kompetitor, studi industri, dan tren pasar.
Setelah itu, Anda perlu:
- Mengidentifikasi masalah spesifik yang ingin diselesaikan.
- Memvalidasi bahwa masalah tersebut cukup signifikan.
- Menentukan target pengguna yang jelas (user persona) agar solusi lebih terarah.
2. Tentukan value proposition dan tujuan bisnis
Selanjutnya, rumuskan nilai utama atau value proposition dari produk Anda, apa manfaat inti yang ditawarkan kepada pengguna. Setelah itu, tentukan tujuan bisnis yang ingin dicapai dari MVP, misalnya validasi ide, pengujian pasar, atau menarik investor awal.
Pastikan tujuan tersebut sejalan dengan kebutuhan pengguna. Buat hipotesis yang akan diuji melalui MVP, lalu tentukan metrik kesuksesan atau KPI yang relevan agar Anda tahu apakah MVP berhasil atau perlu diperbaiki.
3. Prioritaskan fitur inti (core features)
Setelah memahami masalah dan tujuan, buat daftar fitur yang dibutuhkan untuk MVP. Gunakan framework MoSCoW (Must-Have, Should-Have, Could-Have, Won’t-Have) untuk memisahkan fitur berdasarkan prioritas. Bisa juga menggunakan Impact-Effort Matrix agar lebih objektif.
Fokus hanya pada fitur yang benar-benar dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah utama pengguna. Hindari feature creep, yaitu kecenderungan menambahkan terlalu banyak fitur. Pastikan fitur MVP functional, reliable, usable, dan memiliki desain yang layak meskipun sederhana.
4. Petakan user journey dan user flow
Untuk menciptakan pengalaman pengguna yang baik, Anda perlu:
- Merancang user journey dari awal pengguna menemukan produk hingga mencapai tujuan mereka.
- Membuat user flow yang sederhana dan mudah diikuti, pastikan setiap langkah memberikan real value pada pengguna.
- Mengidentifikasi titik gesekan (friction points) yang bisa menghambat pengalaman pengguna.
- Mendesain interface yang user-friendly, walau dengan tampilan minimalis.
5. Buat prototype dan desain MVP

Pilih bentuk MVP yang sesuai dengan kebutuhan, misalnya berupa wireframe, mockup, landing page, video demo, atau prototipe fungsional. Gunakan tools seperti Figma, Bubble, Glide, atau framework ringan seperti React Native untuk mempercepat proses.
Fokuslah pada kualitas fitur inti, pastikan MVP benar-benar bisa digunakan, bukan hanya konsep di atas kertas. Sebelum diluncurkan, lakukan pengujian internal untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Baca Juga: Memahami Prototype Produk: Jenis, Contoh, Cara Membuatnya
6. Luncurkan MVP ke target pengguna awal
Saat MVP sudah siap, tentukan segmen pengguna awal (early adopters) yang tepat untuk mencoba produk Anda. Tidak perlu menunggu sampai semua sempurna, lebih baik luncurkan lebih cepat agar bisa segera mendapat feedback.
Mulailah dengan skala kecil agar lebih mudah mengelola respon pengguna. Pastikan Anda sudah menyiapkan saluran pengumpulan feedback, serta mengatur sistem analytics untuk memantau perilaku pengguna secara real-time.
7. Kumpulkan feedback dan data pengguna
Setelah MVP digunakan, kumpulkan sebanyak mungkin masukan lewat:
- Survey, wawancara, feedback form, hingga analytics tools.
- Pantau metrik seperti user engagement, retention rate, atau completion rate.
- Amati di titik mana pengguna stuck atau berhenti menggunakan produk.
- Dengarkan keluhan dan saran pengguna secara aktif.
Semua insight ini perlu didokumentasikan karena akan jadi bekal utama untuk pengembangan berikutnya.
8. Analisis dan iterasi produk (Build-Measure-Learn)
Setelah feedback terkumpul, saatnya menganalisis data dan perilaku pengguna. Cari pola dan insight yang bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Anda bisa memilih untuk pivot (mengubah arah), persevere (melanjutkan), atau bahkan berhenti jika ide terbukti tidak viable.
Prioritaskan perbaikan berdasarkan dampaknya terhadap pengguna dan urgensinya. Lanjutkan proses iterasi dan ulangi siklus Build-Measure-Learn hingga produk benar-benar mencapai product-market fit.
Baca Juga: Cara Membuat Aplikasi Tanpa Coding untuk Android dan Web
Buat MVP lebih mudah dan cepat dengan low code platform
Membuat MVP tak harus rumit atau menguras anggaran besar. Dengan bantuan low code platform, Anda bisa mempercepat proses pembuatan prototype sekaligus lebih fleksibel dalam melakukan iterasi, apakah itu untuk pivot atau melanjutkan pengembangan berdasarkan feedback pengguna.
Mekari Officeless Studio adalah solusi low code–no code yang ideal bagi perusahaan, baik skala enterprise maupun UMKM, yang ingin membangun produk digital dengan efisien.
Platform ini memungkinkan tim Anda menciptakan MVP tanpa harus memiliki tim developer besar, cocok untuk perusahaan yang memiliki keterbatasan resource dari sisi tenaga ahli maupun anggaran.
Selain mendukung pembuatan MVP lebih cepat, Mekari Officeless Studio juga mempermudah Anda dalam beradaptasi terhadap kebutuhan pasar lewat fitur-fitur yang mendukung iterasi dan integrasi secara real-time.
Pelajari lebih lanjut kapabilitas Mekari Officeless dan mulai bangun MVP Anda hari ini.

