4 min read

Cara Belajar Membuat Aplikasi untuk Pemula Non-IT, Minim Coding!

mekari university belajar membuat aplikasi featured image

Banyak pemula dari latar belakang non-IT merasa membuat aplikasi itu rumit karena identik dengan programming language dan syntax yang membingungkan. Padahal, tren teknologi sudah berubah.

Gartner memprediksi lebih dari 70% aplikasi baru kini dikembangkan dengan pendekatan low code no code. Artinya, membuat aplikasi semakin visual, dan tidak lagi memerlukan ribuan baris kode. 

Dengan tools yang tepat, siapa pun, bahkan dari tim non-IT, bisa memulai membuat aplikasi dengan lebih hemat sumber daya. Seperti apa caranya? Yuk, simak!

Mengapa harus belajar low code no code sekarang?

Jika dulu membuat aplikasi identik dengan tim developer dan biaya besar, sekarang pendekatannya jauh lebih fleksibel. Inilah alasan kenapa belajar no-code dan low-code relevan untuk dimulai sekarang.

1. Peluang karier: Citizen developer makin dibutuhkan

Banyak perusahaan mulai mengadopsi konsep citizen developer, karyawan non-IT yang mampu membangun aplikasi internal untuk mendukung operasional.

HR bisa membuat sistem cuti, tim finance bisa membuat approval budget, hingga tim operasional bisa membangun dashboard monitoring tanpa harus menunggu antrean tim IT. Skill ini membuat Anda lebih adaptif dan punya nilai tambah di dunia kerja yang makin digital.

2. Lebih hemat sumber daya untuk bangun MVP

Untuk menguji ide bisnis, Anda tidak selalu perlu membangun aplikasi kompleks dari nol. 

Dengan platform low code no code, Anda bisa membuat MVP (Minimum Viable Product) secara mandiri atau dengan tim kecil. Biaya jadi jauh lebih terjangkau karena tidak perlu langsung merekrut developer atau membangun sistem custom yang mahal.

3. Agility: Bisa revisi aplikasi dalam hitungan menit, bukan hari

Salah satu keunggulan terbesar low code no code adalah fleksibilitasnya. Perubahan form, workflow, atau tampilan bisa dilakukan secara visual dan instan. 

Anda tidak perlu menunggu siklus development panjang. Ini membuat proses eksperimen, iterasi, dan pengembangan fitur menjadi jauh lebih responsif terhadap kebutuhan bisnis.

Empat pilar membangun aplikasi modern tanpa coding

Membuat aplikasi tanpa coding bukan berarti asal jadi atau terbatas fiturnya. Platform low-code dan no-code modern tetap menggunakan struktur yang rapi dan profesional. 

Bedanya, prosesnya dibuat lebih visual dan mudah dipahami, sehingga pemula non-IT pun bisa mengikuti alurnya. Berikut empat pilar penting yang perlu Anda kuasai.

1. Interface drag-and-drop: Menyusun alur kerja secara visual

Platform no-code memungkinkan Anda menambahkan komponen seperti tombol, formulir, tabel, dan gambar hanya dengan menariknya ke layar kerja. Anda tidak perlu menulis baris kode untuk membuat tampilan atau fungsi dasar.

Yang paling penting adalah memahami workflow atau alur prosesnya. Misalnya, saat pengguna mengisi formulir dan menekan tombol “Kirim”, sistem otomatis menyimpan data dan mengirim notifikasi. Semua pengaturan ini dilakukan melalui konfigurasi visual, sehingga lebih mudah dipahami dibandingkan bahasa pemrograman.

Baca Juga: Mengenal Pemrograman Visual beserta Contoh Aplikasi Low Code

2. Pre-built blocks: Fitur siap pakai tanpa membangun dari nol

Platform modern biasanya sudah menyediakan berbagai modul bawaan, seperti sistem login, approval, notifikasi, hingga dashboard laporan. Anda tidak perlu membangun fitur tersebut dari awal.

Cukup pilih modul yang dibutuhkan, lalu sesuaikan dengan kebutuhan aplikasi Anda. Jika membutuhkan sistem persetujuan, Anda tinggal mengatur siapa yang menjadi approver dan bagaimana alurnya. Jika ingin notifikasi otomatis, cukup tentukan kondisi pemicunya.

Beberapa platform juga sudah menyediakan integrasi AI sederhana atau koneksi ke layanan lain. Dengan pendekatan ini, Anda bisa fokus pada kebutuhan bisnis, bukan pada teknis pengembangannya.

3. Custom logic: Menyesuaikan dengan kebutuhan yang lebih spesifik

No-code bukan berarti tidak fleksibel. Platform modern menyediakan logic builder berbasis kondisi, seperti pengaturan if–then.

Contohnya, jika nilai transaksi melebihi batas tertentu, sistem bisa meminta persetujuan tambahan. Jika stok barang menipis, sistem dapat mengirim peringatan otomatis. Semua ini diatur melalui menu pengaturan logika, bukan dengan menulis script panjang.

4. Real-time preview dan testing: Hasil langsung bisa diuji

Setiap perubahan yang Anda lakukan bisa langsung dilihat dan diuji saat itu juga. Anda dapat mencoba aplikasi di perangkat yang berbeda untuk memastikan semua tombol, formulir, dan alur berjalan sesuai rencana.

Jika ada yang kurang tepat, perbaikannya bisa dilakukan secara instan tanpa proses teknis yang panjang. Pendekatan ini membuat proses belajar lebih cepat dan minim risiko kesalahan besar.

Bagaimana cara mulai belajar membuat aplikasi?

Memulai belajar membuat aplikasi tanpa latar belakang IT tidak harus rumit. Kuncinya adalah bertahap dan fokus pada dasar yang benar. Berikut langkah yang bisa Anda ikuti.

1. Pahami konsep workflow dan data structure

Sebelum menyentuh tools, pahami dulu bagaimana sebuah proses berjalan. Workflow adalah urutan langkah dari awal hingga akhir, misalnya proses pengajuan cuti dari karyawan hingga disetujui atasan.

Sementara itu, data structure adalah cara data disusun dan disimpan, seperti daftar nama karyawan, tanggal cuti, dan status persetujuan. Jika Anda memahami dua hal ini, Anda sudah memiliki fondasi utama dalam membangun aplikasi yang rapi dan tidak berantakan.

Baca Juga: Workflow Builder: Cara Membuat Automasi & Integrasi Sistem

2. Mulai dari project sederhana

Jangan langsung membuat aplikasi yang kompleks. Mulailah dari kebutuhan kecil, seperti form pendaftaran, sistem approval sederhana, atau tracker tugas tim.

Project kecil membantu Anda memahami logika dasar tanpa merasa kewalahan. Setelah terbiasa, Anda bisa menambahkan fitur secara bertahap.

3. Pelajari cara integrasi API

bagaimana integrasi api bekerja

Seiring berkembangnya kebutuhan, aplikasi sering kali perlu terhubung dengan sistem lain, seperti email, database eksternal, atau tools pembayaran. Di sinilah integrasi API berperan.

Anda tidak perlu memahami coding yang mendalam, tetapi cukup mengerti konsepnya. Banyak platform no-code sudah menyediakan konektor atau integrasi siap pakai yang mudah dikonfigurasi.

4. Latihan membangun mini app secara konsisten

Belajar paling efektif adalah dengan praktik. Tantang diri Anda membuat mini app secara rutin, misalnya aplikasi absensi sederhana, dashboard monitoring, atau sistem request internal.

Semakin sering mencoba, semakin terbiasa Anda memahami pola workflow dan logika aplikasi.

5. Belajar terstruktur lewat kursus gratis

Jika ingin belajar lebih cepat dan terarah, mengikuti program terstruktur bisa jadi pilihan tepat. Anda bisa mulai dari Kursus GRATIS: Mekari Officeless Gen 2 – Non-Technical Business Professionals Essentials.

Program ini dirancang khusus untuk profesional non-teknis yang ingin menyederhanakan proses bisnis kompleks menggunakan sistem no-code dan low-code. Anda tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik membangun aplikasi yang benar-benar relevan untuk kebutuhan bisnis.

Yuk, ikuti kursusnya di sini!

Topik:
Keluar

WhatsApp WhatsApp kami